• Breaking News

    Thursday, November 15, 2012

    AS Tuduh Iran Timbun Emas untuk Hadapi Sanksi


    UNTUK menghadapi sanksi ekonomi yang semakin menyengsarakan rakyat dan merusak mata uang rial, Iran dilaporkan melakukan strategi menimbun emas. Hal itu diungkapkan David Cohen Wakil Menteri Keuangan (Undersecretary of Treasury) AS.

    "Iran mencoba menimbun emas, baik dengan membeli maupun dengan mencegah ekspor emas ke luar negeri, sebagai sebuah usaha yang agak putus asa untuk melindungi valuasi mata uangnya," kata pejabat yang bertanggung jawab dalam penerapan sanksi perbankan kepada Iran ini, sebagaimana dilansir Southern California Public Radio dalam situsnya scpr.org, jumat (9/11).

    Iran sedang menghadapi embargo minyak dari negara-negara Barat dan AS yang juga mengadopsi sanksi perbankan yang sangat ketat. Turki menjadi sumber utama pembelian emas bagi rakyat Iran. Menjelang perang Teluk pertama dan kedua kepada Saddam Hussein, rakyat Irak juga melakukan pembelian besar-besaran, sehingga ketika Dinar Irak hancur dihantam devaluasi, beberapa kalangan di Irak telah mengantisipasinya dari awal.

    Seperti menunggu giliran, rakyat Iran juga melakukan berbagai upaya agar tidak menjadi korban dari sanksi ekonomi yang dituduh pimpinan di Iran sebagai perang ekonomi (economics warfare) ini. Seperti halnya Inggris yang sejak 1939 telah mempunyai Kementerin Perang Ekonomi (Ministry of Economic Warfare), AS dan negara-negara Barat lainnya telah berpengalaman dalam kancah perang ekonomi sejak Perang Dunia II. Pada Juli 1940, AS telah mempunyai infrastruktur perang ekonomi di militer bernama The Office of Administrator of Export Control yang dikepalai Brigjen Russell Lamont Maxwell.

    Badan ini diubah setahun kemudian pada 5 September 1941 menjadi Badan Pertahanan Ekonomi (Economic Defense Board) dan namanya kemudian berubah menjadi Office of Economic Warfare (OEM) sebelum akhirnya digabungkan dalam Foreign Economic Administration, tahun 1943. Kebijakan politik yang diambil berkaitan dengan ekonomi adalah, blokade (embargo, sanksi dan boikot), daftar hitam (blacklisting), pembelian preclusive dan perampasan asset musuh. Sebelum diterapkan di Timur Tengah, konsep perang ekonomi dahulunya menyasar Jerman, Jepang dan musuh sekutu lainnya.

    Bulan lalu, Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengutuk perang ekonomi yang diberlakukan Barat seiring dengan hancurkan mata uang Iran yang mengalami devaluasi hampir 80% sebagaimana dilaporkan BBC. Sementara itu rakyat mulai beralih untuk membeli emas untuk jaga-jaga. "Tekanan ini tidak akan selamanya. Bangsa Iran telah menbuktikan bahwa pihaknya tidak akan takut dengan tekanan dan telah berpengalaman mengatasi masalah ini," kata Ayatollah Ahmad Khatami, seorang imam di mesjid Kampus Universitas Tehran sebagaimana dilansir Farsnews.com (5/10).

    Mark Dubowitz,Direktur Eksekutif, Foundation For Defense of Democracies menjelaskan pilihan ini dilakukan AS karena pemerintahan Obama menolak permintaan Israel untuk melakukan serangan militer ke Iran untuk menghentikan 'program nukli Iran' yang masih diperdebatkan kebenarannya oleh kedua pihak yang bertikai. "Semakin banyak praktisi (hukum dan politik di Washington) yang mengasah keterampilan mereka menerapkan sanki," kata Dubowitz. Dia menambahkan saat ini terdapat ratusan ahli sanki ekonomi di pemerintahan, firma hukum dan thing tank.

    Para think tank tersebut berlomba untuk mengajukan proposal untuk memperoleh persetujuan dari Kongres dan rekanan. "Banyak kantor hukum besar yang tumbuh dari bisnis sanksi yang menguntungkan ini," tambahnya sebagaimana dilansir usnews.com, (2/7).

    Ramai-Ramai Beli Emas

    Bagi warga Iran tidak ada cara lain untuk mengurangi dampak sanksi kecuali dengan sebanyak mungkin membeli emas. Arabianbusiness.com (29/10) melaporkan Turki mengalami booming perdagangan emas akibat tingginya permintaan dari pasar Iran. Negara ini mengekspor US$1,8 miliar emas di bulan Juli ke Iran, sebuah angka yang dapat mengurangi seperlima defisit perdagangan luar negeri Turki di bulan yang sama. Angka ini terus meningkat menjadi US$2,3 miliar di bulan berikutnya.

    "Semua mata uang di dunia ini mempunyai identitas, akan tetapi emas hanya mempunyai nilai tanpa identias. Harganya tetap absolut kemanapun anda pergi," kata seorang pedangan emas di Dubai yang kebanjiran pembeli dari Iran.

    Walaupun tren pembelian emas besar-besaran dikatakan sebuah tindakan yang agak putus asa di Iran, tingkat konsumsi emas di berbagai negara merupakan bagan dari indikator pertumbuhan ekonomi. Di China, dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia, 'kelaparan' untuk mengkonsumsi emas semakin tinggi pula. Pada Februari 2012, China mengungguli India sebagai negara dengan konsumsi emas tertinggi di dunia.

    World Gold Council merilis, permintaan emas di India yang selama ini terbesar di dunia menurun ke angka 173 ton sementara China meningkat menjadi 190,6 ton sebagaimana dilansir The Times of India (17/2).

    Sementara itu, cadangan emas yang dipegang oleh Bank Sentral Iran juga masih terbilang kecil mencapai angka 907 ton. Itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan cadangan emas Bank Sentral Uni Eropa yang mencapai 10.787,4 ton, disusul AS (8.133,5 ton), Jerman (3.396,3 ton) atau China (1.054,1).


    Sumber

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email