• Breaking News

    Wednesday, November 21, 2012

    Moskow Ajak Ekspat Rusia Lawan Revisionisme sejarah


    SEJARAH dikatakan sangat bergantung pada zaman penulisannya. Akibatnya, generasi sekarang ikut berjuang bersama leluhurnya untuk menuliskan sisi yang paling benar dari titik sebuah sejarah.

    Contohnya, Moskow mengajak warga negara Rusia yang tinggal di luar negeri ikut berpartisipasi melakukan revisionisme sejarah melawan fasisme yang menjadi musuh Rusia pada Perang Dunia II

    Upaya untuk merevisi sejarah dan memuliakan fasisme harus dilawan lanjut, dan orang Rusia yang tinggal di luar negeri dapat berkontribusi terhadap upaya-upaya penting ini, kata Kementerian Luar Negeri Rusia Jumat (25/10) sebagaimana dilansir RT.com Sabtu kemarin.

    Beberapa dekade setelah berakhirnya PD II, Rusia saat ini menyadari sedang berjuang di lini depan yang berbeda, kali ini terhadap orang-orang yang ingin mengubah catatan sejarah. "Ini benar-benar penting bahwa kita bekerja sama untuk melawan upaya memalsukan sejarah dan hasil dari Perang Dunia II," kata Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov pada Kongres Dunia Ekspatriat Rusia di St Petersburg, Jumat.

    Meskipun pengorbanan yang mengerikan telah dilakukan Rusia selama 'Great Patriotic War,' masih ada yang "merusak memori dari mereka yang mengalahkan fasisme dan ... memuliakan Nazi dan kolaborator mereka," katanya.

    Sebagai tanggung jawabnya, Rusia akan terus mempromosikan agenda positif dan pemersatu dalam hubungan internasional ... yang dipandu oleh hukum internasional, Lavrov menambahkan.

    Dijelaskan, sejarah Rusia terus diremehkan oleh kegiatan revisionis dan kelompok neo-fasis, yang berada di luar perbatasan Rusia.

    Misalnya, mantan anggota Legion Waffen-SS beraliran Nazi di Latvia menyelenggarakan parade tahunan di ibukota Riga untuk memperingati berdirinya kelompok itu pada tahun 1943.

    Pada bulan Februari, Presiden Latvia Andris Berzins menganjurkan, dengan alasan bahwa banyak orang Latvia secara paksa direkrut menjadi tentara Hitler, orang Latvia sekarang harus "menghormati" para veteran Waffen-SS.

    Pada April 2007, pertumpahan darah terjadi ketika otoritas Estonia membuat keputusan untuk merelokasi monumen Perang Dunia II dari pusat Tallinn. Patung, yang dikenal sebagai Tentara Perunggu, merupakan memorial kuburan tentara Soviet yang kehilangan nyawa mereka dalam perang melawan fasisme.

    Langkah ini memicu protes besar di ibukota Estonia yang menewaskan satu orang dan puluhan luka-luka.

    Moskow, dijelaskan, sangat menghargai inisiatif yang diusulkan oleh organisasi asing di luar negeri untuk menandai titik yang mengesankan dalam sejarah Rusia, kata Lavrov, mengutip sebuah perayaan peran Rusia 200 tahun lalu dalam Perang Patriotik 1812, yang menandai berakhirnya Perang Napoleon sebagai contohnya.

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email