• Breaking News

    Monday, December 3, 2012

    Australia Berinvestasi di Lapangan Gas Israel yang Dipersengketakan dengan Lebanon


    PERUSAHAAN tambang asal Australia, Woodside Petroleum, telah setuju untuk berinvestasi dengan membeli 30 persen saham lapangan gas Leviathan Israel yang dipersengketakan dengan Lebanon yang memiliki 17 triliun kaki kubik cadangan gas alam dengan uang muka sebesar US$696 juta.

    Woodside telah sepakat dengan pemilik saham lainnya, Noble Energy Ltd Mediterania Ltd., Delek Drilling LP, Avner Oil Exploration LP and Ratio Oil Exploration (1992) LP dan membuat perusahaan ini dapat mengambil bagian dalam eksplotasi lanjutan di konsesi Leviathan, sebagaimana dilansir finanznachrichten.de, Senin (3/12).

    Lapangan gas tersebut ditemukan pada bulan Juni 2010 di lautan yang berbatasan dengan Lebanon, Yunani dan Cyprus. Saat itu, Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, mengkritisi Israel yang berusaha menutupi fakta bahwa cadangan gas tersebut memanjang sampai ke Lebanon. Pihak Israel sendiri melalui Uzi Landau, Menteri Infrastruktur Nasional, menegaskan pihaknya siap menggunakan kekuatan militer untuk mempertahankan haknya.

    Lapangan gas Leviathan dianggap para analis sebagai hal penting, alias game changer, yang dapat membuat Israel dapat memenuhi kebutuhan energinya selama 100 tahun dan meningkatkan secara drastis Produk Domestik Bruoto (PDB) negara tersebut.

    Ditambah lapangan gas alam lainnya yang ditemukan sebelumnya, Israel diprediksi akan menjadi eksportir gas ke luar negeri yang dapat meningkatkan tawaran politiknya di Eropa maupun negara konsumen Asia seperti Jepang, China dan India.

    Selain dengan Lebanon, Israel juga mempunyai konflik dengan Palestina pada beberapa lapangan gas di perairan Gaza. Menyusul gangguan pasokan dari Mesir baru-baru ini akibat pemboman pipa gas, Israel pernah mengeluarkan wacana untuk bekerjasama dengan pemerintahan Palestina di Tepi Barat pimpinan Mahmoud Abbas, untuk eksplorasi bersama potensi gas di Jalur Gaza.

    Israel sendiri, saat ini, mengimpor 40 persen kebutuhan gasnya dari Mesir dengan harga sangat murah untuk 20 tahun, yang ditandatangani sejak 2005, namun, sejak turunnya Presiden Mubarak, pemerintah baru Mesir berusaha melakukan renegosiasi dengan harga dan kontrak yang baru.

    Sumber

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email