• Breaking News

    Monday, January 21, 2013

    Hindari Banjir, BPPT Siap Cegat Hujan di Langit Jabodetabek


    HUJAN yang terus-menerus mendera ibukota dan sekitarnya telah membuat Jakarta lumpuh. Sampai saat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan 15.423 warga telah menjadi pengungsi di posko-posko pengungsian di Jakarta dan sekitaranya. Bencana ini juga telah merenggut beberapa nyawa, pengungsi yang mulai dihantui penyakit bencana, stres dan mengakibatkan kerugian materil dan immateril.

    Selain dari dimensi sosial, banjir telah menambah hiruk pikuk politik di ibukota karena banjir terlanjur dijadikan komoditas politik di Pilkada DKI Jakarta 2012. Gubernur Joko Widodo sampai larut malam pontang-panting mengkoordinasikan bawahan untuk menambal tanggul jebol, presidenpun harus naik sea rider memantau banjir dan para pekerjapun harus bolos kerja karena jalan diterjang  banjir dan kemacetan.

    Dalam tradisi, Indonesia sebenarnya mempunyai solusi untuk hal seperti ini yang disebut dengan pawang hujan. Namun apakah ada yang terpikir menggunakan pawang hujan pada kondisi saat ini? sebagaimana sering digunakan warga pada perhelatan pernikahan. Untuk mengatasi hal ini lembaga teknologi seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berencana mencegat hujan di langit Jabodetabek, Jakarta dan sekitarnya, sebelum tetesnannya menyentuh tanah.

    Seperti diketahui lembaga ini telah berhasil membuat hujan buatan di berbagai wilayah di Indonesia untuk mencegah penyebaran hotspot atau titik api yang menyebabkan kebakaran hutan akibat musim kemarau. Namun apakah BPPT juga telah menguasai teknologi pencegat hujan agar banjir kiriman akibat hujan di Bogor tidak menimbulkan kerugian yang cukup besar di Jakarta dan sekitarnya?

    "Sudah mas," kata Dr Tri Handoko Seto, Peneliti Meteorologi Tropis dan Praktisi Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT saat dihubungi Junal Nasional, Jakarta, Jumat (18/1). Selain untuk memadamkan api, teknologi modifikasi cuaca telah berhasil membantu umat manusia dalam irigasi pertanian, meminimalisasi dampak badai dan berbagai faedah lainnya.

    BPPT sendiri akan menerapkan teknologi yang hanya dimiliki oleh beberapa negara tertentu saja ini. "Rencananya minggu depan akan kita operasikan," katanya. Pesawat dan roket akan digunakan untuk menembakkan berbagai bahan kimia ke dalam setiap gumpalan awan yang mengancam, dengan tujuan untuk mengecilkan tetes hujan sebelum setiap tetes mencapai permuakaan tanah.

    Seto menjelakan prioritas mereka adalah melindungi ibukota dari dampak cuaca buruk. "Minimal yang harus diamankan DAS Ciliwing, DAS Pesanggrahan dan DAS Cisadane, meiputi Jakarta, Bogor, sebagian Tangerang, Bekasi Depk. Pokoknya daerah-daerah yang kalau hujan turun akan mengalr ke wilayah Jabodetabek," jelasnya.

    Sebagaimana diketahui, berbagai negara seperti China dilaporkan telah menggunakan teknologi penangkal hujan secara massif pada perhelatan Olimpiade 2008 lalu. Pasukan modifikasi cuaca China menembakkan 1.100 roket anti hujan ke langit agar hujan dan cuaca buruk tidak mengganggu even yang prestisus itu sebagaimana dilaporkan guardian.co.uk (23/7/2009).

    Pasukan, yang dilengkapi dengan 18 pesawat penyemai awan (cloud-seeding aircraft) dan 48 kendaraan peluncur roket (48 fog-dispersal vehicles) penyebar kabut, ini selalu disiapsiagakan untuk mencegat hujan yang tidak diinginkan dalam beberapa perhelatan olimpiade tersebut. "Ini merupkan kali pertama dalam sejarah China, modifikasi cuaca buatan dilakukan dengan skala besar," kata Cui Lianqing, seorang ahli cuaca di Angkatan Udara China. Negara ini memiliki infrastruktur pencegat dan pembuatan hujan buatan serta pemodifikasi cuaca terbesar di dunia dengan melibatkan 50.000 pasukan secara nasional.

    China tidak ingin bermain-main dengan cuaca dan akibatnya. Negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia ini tidak ingin ekonominya diganggu oleh cuaca. Secara keseluruhan, China mempunyai 30 pesawat, 4.000 peluncur roket dan 7.000 senjata anti pesawat yang digunakan untuk mencegat hujan secara nasional.

    Teknologi modifikasi cuaca ini tentunya dapat menjadi solusi jangka pendek untuk memudahkan kehidupan warga ibukota Jakarta, dari kepungan banjir akibat cuaca buruk, selain pembangunan Terowongan Multi Guna (Deep Tunnel), penambahan situ, sumur serapan, pemindahan ibukota, pembangunan Tembok Laut Raksasa (Great Sea wall) atau perobohan villa di Puncak Bogor yang butuh waktu panjang untuk mewujudkannya.

    Sumber:

    http://www.jurnas.com/news/80685
    http://www.guardian.co.uk/environment/2009/sep/23/china-cloud-seeding
    http://www.universetoday.com/16728/the-chinese-weather-manipulation-missile-olympics/

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email