• Breaking News

    Wednesday, January 23, 2013

    Ternyata BPPT Pernah Cegat Hujan di Palembang


    TEKNOLOGI Modifikasi Cuaca (TMC) dinilai dapat digunakan untuk mengurangi curah hujan yang belakangan dialami Jakarta dan sekitarnya. Begini caranya BPPT melakukannya.

    "Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah upaya manusia untuk melakukan intervensi terhadap proses yang terjadi dalam awan dan atau lingkungannya," kata Seto melalui surat elektroniknya, Jakarta, Jumat (17/1).

    Menurutnya, secara historis, puncak musim hujan di Jakarta dan sekitarnya terjadi pada bulan Januari - Februari, khususnya dua minggu terakhir Januari hingga dua minggu pertama Februari. "Pada rentang waktu tersebut terdapat peluang besar terjadinya banjir," katanya.

    Dia menjelaskan, menurut beberapa model prediksi cuaca, curah hujan di Jabodetabek masih akan tinggi hingga tanggal 18 Januari dan kemudian menurun sejak tanggal 19 Januari. Namun demikian, katanya, curah hujan diperkirakan akan meningkat lagi pada tanggal 24-26 Januari.

    Fluktuasi seperti ini kemungkinan akan terus berlangsung sampai pertengahan Februari meskipun dengan magnitudo yang hampir sama. Diduga, jelasnya, fenomena gelombang atmosfir yang disebut sebagai 'equatorial Rossby' berperan dalam proses pembentukan curah hujan tinggi di Jabodetabek.

    "Tentu saja di samping pengaruh monsun dan osilasi diurnal. Kalau melihat pergerakan massa udara, maka terlihat bahwa massa udara dari Laut Cina Selatan dan India yang bergerak ke selatan menuju pusat tekanan rendah di Australia mengalami pembelokan di sekitar Jakarta akibat tekanan rendah di Samudera Indonesia di sebelah barat daya Jakarta," katanya.
     
    Di alam, kata dia, terdapat kondisi dimana awan dengan sangat cepat berproses menjadi hujan. Ada pula awan yang sulit atau perlu proses lama untuk menjadi hujan. Bahkan ada pula awan yang buyar tidak menjadi hujan.

    "Dengan mempelajari proses-proses alam tersebut maka TMC berupaya mengkondisikan awan dan atau lingkungannya seperti proses alami tersebut. TMC bisa digunakan untuk mengurangi curah hujan yang berlebih yang mengakibatkan banjir," katanya.

    Untuk kasus Jakarta, jelasnya, banjir terjadi ketika terjadi hujan dengan intensitas yang tinggi daerah aliran sungai (DAS) yang melingkupi Jakarta (DAS Ciliwung, DAS Pesangggrahan, DAS Cisadane, dll), baik di bagian hulu (Bogor) maupun hilir (Jakarta), apalagi jika di hulu dan hilir. Terkait dengan ini, prinsip TMC untuk mengurangi curah hujan yang berlebih adalah dengan menggunakan tiga metode.

    "Pertama, mempercepat proses awan menjadi hujan terhadap awan-awan yang sedang tumbuh di daerah 'upwind' yang bergerak memasuki DAS," katanya. Dengan demikian, awan-awan tersebut akan turun menjadi hujan sebelum masuk DAS.

    Bahkan, kata dia, awan-awan yang tumbuh di Jakarta juga bisa dipercepat proses hujannya agar tidak sempat menjadi awan yang sangat besar dan menjadi hujan yang banyak. Metode ini dieksekusi menggunakan pesawat terbang dan bahan semai powder.

    "Kedua, dengan mengganggu proses pertumbuhan awan di dalam DAS yang bergerak meninggalkan DAS agar awan tidak menjadi hujan di dalam DAS. Metode ini dieksekusi menggunakan peralatan darat dan atau pesawat berbahan semai flare.

    Ketiga, kata dia, jika karena aliran masa udara membawa uap air yang sangat banyak sehingga awan besar, Cb (cumulonimbus) masih tetap tumbuh maka akan diganggu agar curah hujan yang turun ke permukaan tanah berkurang. Metode ini dieksekusi menggunakan pesawat yang mampu terbang pada ketinggian di atas 20 ribu kaki dengan menggunakan bahan semai inti es.

    "Teknologi ini diperkirakan akan mampu mengurangi curah hujan di DAS-DAS di Jakarta dan sekitarnya  lebih dari 30%. Pengalaman penerapan teknologi ini di Jakabaring Palembang pada saat SEA GAMES 2011 menunjukkan hasil yang sangat memuaskan," katanya.


    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email