• Breaking News

    Thursday, September 12, 2013

    Begini Dollar Hisap Mata Uang Dunia

    Dollar Robbery atau perampokan mata uang dollar terhadap kekayaan negara-negara emerging market sudah terjadi sejak lama. Hal itu dapat terjadi karena dollar menjadi mata uang acuan sampai sekarang. Walaupun China sudah mulai menjajaki kemungkinan mata uangnya menjadi mata uang acuan berkompetisi dengan dolar, euro, yen dll.


    Penurunan Mata Uang Brazil Dorong Peningkatan Ekspor

    KEPUTUSAN Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve untuk menurunkan stimulus ekonomi AS, menghasilkan gelombang yang dapat dirasakan di pasar keuangan luar negeri, dilaporkan NPR, Senin (26/8). Langkah antisipatif yang dilakukan The Fed itu mendorong kejatuhan mata uang Brazil, dan juga dialami mata uang negara-negara berkembang lainnya.

    Walaupun begitu, dilaporkan, penurunan mata uang Brazil mempunyai dampak positif, peningkatan ekspor.

    Produk-produk yang diekspor dari Brazil meningkat 3,8 persen dalam tiga bulan terakhir sampai Juni, dibandingkan kenaikan 1,6 persen pada kuartal sebelumnya. Hal itu juga didorong oleh membaiknya ekonomi AS, salah satu pasar utama ekspor Brazil.

    "Positifnya adalah, ekspor membaik," kata Peter Gyde, Managing Director Maersk Line Brazil. "Sebagian diakibatkan oleh membaiknya ekonomi dunia dan sebagian lagi terbantu oleh mata uang lokal yang menurun".

    Sebelumnya, para pengambil kebijakan di Brazil memperingatkan bahwa real, mata uang Brazil, mengalami over valuasi terhadap dolar. Saat ekonomi negara-negara emerging market mengalami booming setelah krisis 2008-2009, real menyentuh angka R$1,50 terhadap dolar AS.

    Guide Mantega, Menteri Keuangan Brazil, menyebutnya dengan istilah 'perang mata uang'. Dia mengeluh, negara-negara maju menggunakan pelonggaran quantitative easing, yang dikenal juga dengan julukan kebijakan 'printing money', untuk men-devaluasi mata uang mereka demi mendorong pertumbuhan ekonomi.

    Devaluasi biasanya dilakukan untuk memperbaiki ekonomi yang rusak akibat kebijakan yang salah pemerintahan sebelumnya atau kebijakan sendiri. Pasca Presiden Bush, AS membutuhkan dana yang besar untuk membayar biaya perang di pemerintahan sebelumnya dan untuk mendanai kebijakan-kebijakan lainnnya pada administrasi Obama. Menurut IPS (30/4), AS harus membayar biaya perang di Irak dan Afghanistan saja sebesar US$4-6 triliun, sejak 2001.

    The Fed dalam hal ini mempunyai keunggulan untuk devaluasi dengan memperlancar pasokan uang, misalnya dengan menambah cetakan uang dolar baru yang menjadi mata uang patokan dunia. Selain menurunkan suku bunga bank dan memompa dana segar ke pasar. Pada saat ekonomi mulai tumbuh dan stabil, investor yang tadinya kabur ke emerging market kembali membawa dananya ke pasar AS, yang mengakibatkan gejolak di negara-negara emerging market.

    Ada yang menyebut taktik ini sebagai dollar robbery, karena kebijakan super mahal pemerintahan AS tidak saja ditanggung oleh para pembayar pajak di negara itu, tapi, secara tidak langsung, juga oleh ekonomi negara lain yang bergantung dengan mata uang dolar. Hingga saat ini, bank sentral di negara emerging market sudah menghabiskan US$81 miliar untuk intervensi pasar.

    Brazil dilaporkan BBC (23/8) juga menyediakan dana US$60 miliar untuk intervensi pasar sebagai usaha untuk menstabilkan mata uangnya agar tidak terlalu melorot. Penurunan mata uang, di sisi lain, menaikkan biaya impor dan mengakibatkan naiknya sebagian biaya hidup. Kenaikan itu dapat menciptakan inflasi yang tidak terkontrol.

    Sumber: Jurnas

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email