• Breaking News

    Thursday, September 12, 2013

    Iran Berencana Tuntut AS soal Kudeta 1953

    PENGAKUAN dinas rahasia Amerika Serikta (AS) baru-baru ini, mengenai keterlibatannya dalam kudeta 1953 di Iran, berbuntut tuntutan hukum dari parlemen Iran.

    Lembaga perwakilan rakyat itu, Selasa kemaren, menyetujuan sebuah rancangan peraturan yang akan menuntut tanggung jawab keterlibatan AS dalam menjatuhkan pemimpin yang terpilih secara demokratis di negara itu.

    Press TV (27/8) melaporkan, jika RUU ini disetujui bersama, sebuah komite ad hoc akan dibentuk untuk membahas tata cara penuntukan hukum ke AS di pengadilan internasional. "Atas keterlibatan AS dalam urusan dalam negeri Iran yang menyebabkan kerusakan," tulis media itu.

    CIA melalui dokumennya, mengakui keterlibatannya mengkudeta Perdana Menteri Mohammed Mossadegh, 60 tahun lalu. Dia menjabat sebagai PM pada pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Saat memerintah, Mossadeq berhasil menasionalisasi industri minyak nasional yang dikuasai Anglo-Persian Oil Company (AIOC) yang sekarang bernama British Petroleum Company (BP). Perusahaan ini berdiri berkat penemuan minyak di Masjid Soleiman Iran 1908.

    Operasi kudeta terhadap Mossadeq dilakukan dinas rahasia Inggris dan AS, menggunakan militer Iran sendiri. Kudeta ini menaikkan nama Allen Dulles, pejabat CIA, yang juga berjasa dalam dua operasi kladestin lainnya, Kudeta Guatemala 1954 dan invasi Bay of Pigs di Kuba. Selain menjadi Shah, Mohammad Reza Pahlavi juga menjadi penguasa militer saat itu yang mempunyai kedekatan politik dan bisnis dengan AS.

    Dia mengantikan ayahnya, Rezā Shāh Pahlavi yang dibuang Inggris. Rezā Shāh turun tahta juga akibat dorongan Inggris yang dibantu Rusia saat kedua negara itu sama-sama meng-invasi Iran pada Agustus 1941. Iran saat itu menjadi negara netral ketika Inggris dan Rusia melawan Jerman.

    Rezā Shāh sendiri berhasil menjadi pemimpin Iran saat berhasil mengkudeta Raja Ahmad Shah Qajar tahun 1921, dari Dinasti Qajar yang memerintah Iran sebelumnya. Kudeta ini berhasil dilakukan Rezā Shāh yang saat itu menjabat Panglima pasukan khusus, Persian Cossack Brigade, milik Qajar. Saat itu, Inggris juga berperan karena kawatir kepentingan bisnisnya tersisih setelah Qajar mulai melakukan modernisasi di negaranya.

    Dalam perebutan kekuasaan ini, terdapat kisah keterlibatan baron Inggris, Paul Julius Freiherr von Reuter, konglomerat pemilik kantor berita Reuters, yang mulai terganggu bisnisnya oleh kalangan nasionalis, setelah Shah Iran sebelumnya Nasser al-Din Shah Qajar tahun 1872 memberikan konsesi industri, termasuk, agraria, pertanian (tembakau) dan bea cukai kepadanya.

    Pengusaha yang juga putera seorang Rabbi Yahudi Jerman ini dianggap cukup beruntung karena, menurut negarawan George Nathaniel Curzon, konsesi itu merupakan 'penyerahan sumber daya industri terlengkap dan terluar biasa pertama sebuah negara ke pihak swasta asing yang pernah ada.' Kisah Reuter ini sama suksesnya dengan kisah para konglomerat dunia yang mengambil keuntungan dari kolonialisme seperti John D. Rockefeller (Royal Dutch Oil Company atau Royal Dutch Shell), Rothschilds, William Knox D'Arcy (BP) dan lain-lain.

    Sepak terjang Rezā Shāh, yang masa mudanya pernah menjadi tenaga keamanan di Konsulat Belanda di Iran ini, sepintas mirip juga dengan kisah Mustafa Kemal Atatürk di Turki. Sama-sama pernah menjadi pemimpin pasukan khusus (Yıldırım Army Group), sama-sama pernah menjabat Menteri Pertahanan, sama-sama pernah mengkudeta Raja sebelumnya dan sama-sama meneruskan modernisasi pemerintahan sebelumnya. Hanya saja, nasib kehidupan Rezā Shāh dan anaknya, Shah Mohammad Reza Pahlavi, sama-sama berakhir di pembuangan.

    Anehnya, tren kudeta atau regime change ini terjadi juga di negara-negara sekitar pada era berikutnya, di Suriah (Faisal I;1920), Mesir (Farouk I;1952), Irak (Faisal II;1958), dan Libya (Idris I;1969) di timur ada Afghanistan (Mohammed Zahir Shah;1973), kebanyakan berhubungan dengan isu minyak dan bisnis. Politik Iranpun sampai sekarang masih berputar di sekitar isu ini.

    Sumber: Jurnas

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email