• Breaking News

    Thursday, January 30, 2014

    Istri TKI Sumbawa yang Tewas Berduka

    Tobapos -- Ainun, istri M Tahir (43), tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Dusun Ai Beta, Desa Kerato Kecamatan Unter Iwis, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, mengaku sudah mempunyai firasat sebelum suaminya dikabarkan meninggal dunia di Malaysia.

    "Empat hari sebelum kabar duka itu saya terima, memang sudah ada firasat melalui mimpi," kata Ainun di Dusun Ai Beta, Kamis.

    Dia melanjutkan, dalam mimpi itu, sepeda motor milik suaminya sedang dikendarai Leni, putri keduanya, dan kemudian terjatuh di dalam air.

    Pada mulanya, mimpi ini tidak ditafsirkan Ainun ke arah yang negatif, dan dirinya lebih menganggap sebagai 'bunga tidur'.

    "Tak disangka, mimpi inilah yang menjadi firasat kalau Bapak (M Tahir) akan meninggalkan kami untuk selama-lamanya, karena kabarnya Bapak meninggal dunia setelah terjatuh kemudian tenggelam," ucapnya.

    Ainun melanjutkan, sejak dulu suaminya berniat berangkat ke Malaysia dengan tujuan agar keluarga keluar dari jerat kemiskinan, karena melihat semakin lama kebutuhan hidup semakin meningkat.

    Sebenarnya Ainun sempat berat hati untuk merelakan suaminya mengais rejeki ke negeri jiran. Tapi rasa berat hati itu terkalahkan dengan tekad suaminya yang begitu kuat untuk pergi. M Tahir kemudian meninggalkan rumah pada 9 Januari lalu, sekitar pukul 20.30 Wita dan tiba di Lombok Timur pada Sabtu dini hari, pukul 02.00 Wita dini hari.

    "Suami saya satu-satunya orang dari Sumbawa yang bergabung dengan sembilan rekannya asal Pulau Lombok, melalui PT Mandiri dan bertolak ke Surabaya, Minggu (12/1), yang selanjutnya terbang ke Malaysia. Setiap tiba di tempat apakah di Lombok, Surabaya, hingga Malaysia, Bapak selalu menginformasikannya melalui handphone," ujar dia.

    Begitu tiba di Malaysia, TKI menginap beberapa hari di penampungan dan mulai bekerja di perkebunan kelapa sawit wilayah Malaysia Barat pada 15 Januari.
    Ainun sempat menghubungi suaminya untuk menanyakan kabar. Saat itu M Tahir sempat mengeluh kalau pekerjaan di kelapa terasa berat dan tidak jauh beda dengan bekerja di daerah kelahirannya, Sumbawa.

    "Saya pun memintanya kalau tidak tahan dan terasa berat, lebih baik pulang saja. Tapi Bapak bersikeras akan terus berjuang dan merasa malu jika pulang tak membawa hasil," kata Ainun.

    Tepat saat Sabtu (25/1), M Tahir menghubungi Ainun. Selain menanyakan kabar keluarga, M Tahir sekaligus meminta istrinya untuk mengirim nomor rekening karena akan menstransfer gajinya.

    "Kebetulan saya tidak punya nomor rekening, lalu saya pinjam rekening tetangga. Kata Bapak, uang yang dikirim diperkirakan akan sampai dalam waktu tiga hari," kenang Ainun.

    Keesokan harinya, Minggu malam setelah magrib, Ainun didatangi Muna, adik iparnya. Ainun sempat heran karena Muna datang sambil menangis, dan mengira ada persoalan dengan keluarganya.

    Secara perlahan dan hati-hati, Muna kemudian menyampaikan kabar jika M Tahir meninggal dunia. Seketika hati Ainun berdegup kencang, terasa hantaman yang membuat tubuhnya jadi lemas, disusul tangisannya meledak dan cukup histeris.

    "Menurut Muna, suami saya meninggal karena tenggelam," katanya.

    Terhadap penyebab kematian suaminya, Ainun menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Namun yang menjadi harapan utamanya adalah kepulangan jenazah korban segera terealisasi.

    "Saya hanya ingin jenazah suami saya dipulangkan. Saya ingin melihat wajahnya meski untuk yang terakhir kalinya," kata Ainun yang air matanya kembali berlinang, sembari berharap pemerintah dan pihak terkait lainnya dapat merealisasikan keinginannya. (ant/mar)

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email