• Breaking News

    Sunday, January 19, 2014

    Perang Pecah Lagi di Republik Afrika Tengah


    Tobapos -- Pertempuran baru telah pecah di Republik Afrika Tengah yang dilanda konflik, kata beberapa saksi mata Sabtu, saat batas waktu ditutup bagi pendaftaran kandidat untuk pemungutan suara oleh parlemen transisi untuk memilih presiden sementara baru.

    Setidaknya tiga orang tewas di Sibut, sekitar 160 kilometer (100 mil) utara ibu kota Bangui, kata penduduk kepada AFP melalui telepon.

    "Saya memadamkan teriakan alarm," katanya minta tak disebutkan namanya.

    "(Para pemberontak) Gerakan Seleka sedang berkuasa seperti panglima perang di kota dan tidak ada kekuatan asing yang melindungi kita."

    Pertempuran yang pecah pada Jumat di stasiun bus kota dan pasar, telah memaksa warga untuk bersembunyi dalam ruangan atau mendorong mereka untuk melarikan diri ke semak-semak, kata sumber itu.

    Sebuah sumber Gereja Katolik mengatakan tempat paroki diserang di Sibut. "Kami mencoba untuk menghubungi (pasukan penjaga perdamaian Afrika) MISCA dan (yang pasukan Prancis) Sangaris untuk bantuan cepat, tetapi sejauh ini tidak ada satupun," katanya.

    MISCA mengatakan kepada AFP bahwa tim sedang dalam perjalanan ke kota berpenduduk sekitar 25.000 orang, pusat transportasi penting yang dikenal karena pasarnya.

    Pejabat agama mengatakan pertempuran juga pecah di bagian barat kota Bossemptele dekat perbatasan dengan Kamerun.

    "Paroki dipecat, mobil imam dicuri dan rumah sakit dijarah," katanya. "Ada beberapa orang terluka."

    Pasukan internasional berusaha untuk memulihkan ketertiban setelah bekas koloni Prancis itu terperosok ke pertempuran sektarian menyusul kudeta Maret di mana kelompok pemberontak Seleka terutama Muslim menggulingkan Presiden Francois Bozize.

    Kekerasan di negara yang sangat tidak stabil itu belum reda meskipun 11 Januari orang kuat Michel Djotodia mundur di bawah tekanan regional yang kuat.

    Dia telah terbukti tidak mampu mengendalikan pasukannya, yang melakukan penjarahan, pembunuhan dan perkosaan yang memicu serangan balas dendam dari milisi Kristen.

    Presiden baru sementara Republik Afrika Tengah akan dipilih pada Senin, kata otoritas transisi negara itu mengumumkan.

    PBB memperingatkan pada Kamis bahwa pertumpahan darah di negara itu bisa berubah dalam genosida. (Ant/Adm)

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email