• Breaking News

    Saturday, February 1, 2014

    Ada Politik di Balik Kolor Ijo

    Tobapos -- BLOG | Kolor ijo yang pernah menggegerkan jagad nusantara beberapa tahun lalu ternyata diam-diam memiliki pewaris di Kabupaten Bantaeng. Makhluk asing yang digambarkan sosok tinggi besar menyeramkan memakai kolor ijo dan senang memperkosa perempuan itu rupanya memiliki pengagum sekaligus murid di Butta Toa. Di Kampung Kasoreang Batulabbu Kecamatan Bantaeng akhir-akhir ini geger dengan pemunculan makhluk sejenis kolor ijo yang senang menculik dan memperkosa anak-anak perempuan dimalam hari.

    Sudah tiga orang anak perempuan setingkat kelas 1 Sekolah Dasar yang menjadi korban kejahilan makhluk bejat tersebut. Akibatnya anak-anak perempuan dijaga ketat pada malam hari oleh keluarga mereka,bahkan ada yang di ikat oleh orang tuanya pada saat tidur karena korban biasanya ditarik dan dibawa pergi pada saat tidur didalam rumah pada malam hari. Masyarakat kemudian mengaktifkan kegiatan ronda untuk mengantisipasi kejadian berikutnya, Polres Bantaeng turut membantu dengan menurunkan beberapa personil polisi, namun hasilnya masih nihil, karena sampai saat ini makhluk jejadian itu belum juga tertangkap.

    Menurut saksi mata, makhluk itu pandai menghilangkan jejak. Ketika dikejar, makhluk itu lari menyeberang jalan dan langsung menghilang. Akhirnya orang tua menjadi resah terutama yang memiliki anak perempuan.

    Polisi bersama warga menjadi penasaran ingin menangkap makhluk cabul tersebut, setiap malam beberapa personil polisi berpakaian preman dikerahkan membantu warga memata-matai pergerakan yang mencurigakan di dalam kampung. Setiap orang yang datang malam hari diperiksa dan ditanyai ada keperluan apa mereka kesana. Dikhawatirkan eskalasi emosi masyarakat menjadi meninggi dan korban salah sasaran akan jatuh lagi seperti waktu munculnya isu penculikan anak-anak.

    Mestinya secara teori pelaku bisa diduga masih penduduk setempat, karena setiap kali dikejar langsung menghilang berarti ada tempat tertentu yang dekat yang dijadikan sebagai tempat persembunyian, apalagi kampung tersebut bukanlah hutan melainkan bagian dari kota karena cukup dekat dari kantor bupati

    Bagi penulis ada hal yang cukup menarik dicermati dari kasus-kasus seperti ini karena mempunyai pola yang agak mirip satu sama lain. Sepertinya kehadiran mereka memiliki waktu-waktu khusus dan berkaitan dengan kepentingan tertentu.

    Coba kita lihat dan kenapa harus selalu makhluk gaib?

    Taruhlah kita sedikit set back ke masa lalu. Pada era tahun 1970 – 80an di daerah kami muncul isu paso’loro’ (kelompok misterius yang menusuk orang melalui celah-celah dinding atau lantai rumah). Di isukan alat yang digunakan adalah tombak kecil atau bambu kuning yang diolesi racun. Masa menjelang Pemilu 1997 dan 1999 muncul isu drakula penghisap darah dan menebar racun dipasar-pasar tradisional terutama beras jualan dipasar, ada juga isu orang yang menjadi korban karena mengisap rokok tertentu yang sudah disuntikkan racun ke dalam filternya sehingga mati keracunan, di kabarkan semua itu adalah ulah drakula yang menyamarkan diri dengan memakai cadar dan berpakaian kedodoran.

    Maksudnya?

    Bukankan isu itu merujuk kepada cara berpakaian komunitas penganut agama Islam.

    Pada tahun 2004 muncul lagi isu kolor ijo di tanah Jawa yang merembet ke seluruh Nusantara, lagi-lagi dekat Pemilu dan yang terbaru sekaligus langsung memakan korban mengenaskan adalah munculnya isu penculikan anak-anak di Sul-Sel untuk diambil organ dalamnya. Saking tegangnya masyarakat menjadi curiga berlebihan kepada orang lain sampai salah sasaran, akibatnya seorang agen toko buku tewas mengenaskan setelah dikeroyok massa di Kab.Gowa. Beberapa minggu kemudian kasus salah sasaran kembali terjadi di Bantaeng, seorang pria yang tidak dikenal identitasnya tewas karena isu yang sama. Kini muncul lagi pemerkosa anak-anak.

    Dari semua kejadian itu menurut penulis jelas tujuannya hanya satu yaitu menciptakan keresahan. Apapun motif pendorongnya tujuannya tetap sama. Banyak yang beranggapan bahwa pelaku adalah orang yang memiliki kelainan seksual, ada juga yang berpendapat bahwa pelaku sedang menjalani syarat ritual ilmu tertentu. Bagi kita, semua dugaan boleh saja dilakukan.

    Pola menarik yang penulis maksudkan adalah isu-isu dan orang-orang sesat ini selalu muncul menjelang pemilihan umum, penulis curiga jangan-jangan ada hubungannya dengan persiapan pemilihan gubernur di Sul-Sel yang sudah semakin dekat. Bisa jadi ada orang jahat yang memanfaatkan situasi untuk membentrokkan kelompok-kelompok masyarakat karena tidak senang jika pemerintahan dan stabilitas keamanan tetap stabil. Mungkin juga karena mereka akan mendapatkan keuntungan finansial jika berhasil mengacaukan masyarakat.

    Selalu ada upaya menggiring masyarakat untuk menyatukan persepsi dalam sebuah situasi tertentu, ujung-ujungnya masyarakat akan mudah digerakkan sesuai keinginan sang sutradara jika kelak moment kepentingan telah tiba, sebuah strategi yang efisien dalam merebut simpati massa, lalu kemudian akan keluar seseorang yang telah disiapkan menjadi pahlawan. Praktis bukan?

    Penulis menyaksikan sendiri situasi yang terjadi ketika ada yang dituduh sebagai penculik anak-anak, tanpa komando seluruh isi kampung tumpah ruah ke jalanan berlarian mengikuti sumber-sumber isu tanpa mempertimbangkan lagi kebenaran atau kebohongannya, semua merasa harus bersatu menyelamatkan anak-anak mereka dan dengan mudah menuruti isu tidak jelas dari mulut ke mulut menuju sasaran yang ditunjuk. Pun juga tidak jelas siapa yang menunjuk sasaran, dan semua tindakan itu ternyata hanya didasarkan pada sebuah istilah “katanya…..”.

    Ibarat sebuah kendaraan, masyarakat adalah mesin yang sementara coba dipanaskan, sehingga tidak akan macet atau rewel sewaktu meluncur dijalanan karena semua komponen telah compatible. Cerdik sekali. Sang sopir tinggal mengarahkan setir kemanapun yang dia inginkan, bahan bakar telah lebih dulu disiapkan yaitu isu-isu sesat tadi dan agar mesin semakin panas ditambahilah dengan bumbu-bumbu mistik karena memang masyarakat kita masih doyan dengan aura mistisisme. Apalagi kejahatan makhluk halus kan tidak bisa dibuktikan secara hukum. Makin gampanglah isu dimainkan.

    Kini, yang dibutuhkan adalah kesadaran kita semua di Indonesia, termasuk menyampaikan kepada anggota keluarga masing-masing, masihkah kita akan selalu dipermainkan dengan isu yang sarat kepentingan sesaat dari orang lain? Jawabannya terpulang kepada diri kita sendiri. Orang lainkah yang pintar ataukah kita sendiri yang bodoh?  

    Sumber: Muh Taufiq/Kompasiana

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email