• Breaking News

    Wednesday, February 5, 2014

    Negara Didesak Lingdungi Pekerja Migran

    Tobapos -- Indonesia mengajak negara-negara pengirim pekerja migran yang tergabung dalam Colombo Process untuk mendesak negara negarapenempatanuntuk melindungi hak-hak dasar setiap pekerja migran dan keluarganya.

    "Ini dibutuhkan untuk mencegah terjadinya perdagangan manusia (trafficking), penempatan pekerja migran illegal sertaeksploitasi dan perlakuan tidak layakterhadap pekerja migranyang selama ini masih terjadi," kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar saat menerima kunjungan bilateral Menteri Promosi Tenaga Kerja Luar Negeri dan Kesejahteraan Srilanka Hon. Dilan Perera di Jakarta, Rabu.

    Saat ini Srilanka adalah ketua Colombo Process yang merupakan forum konsultasi regional paraMenteri negara-negara Pengirim Tenaga Kerja se-Asiayang bersifattidak mengikat.

    Anggota Colombo Process terdiori dari 11 negara aituAfghanistan, Banglades,China, India, Indonesia, Nepal, Pakistan,Filipina, Sri Lanka,Thailand dan Vietnam.

    Sementara itu, pertemuan Muhaimin dengan Menteri Promosi Tenaga Kerja Luar Negeri dan Kesejahteraan Srilanka itu digelar untuk mendukung "Senior Official Meeting (SOM) of the Colombo Process" ke-5 di Srilanka pada tanggal 17-18 Maret 2014.

    Pertemuan SOM itu merupakan momentum yang baik bagi negara-negara pengirim tenaga kerja untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dinamika ketenagakerjaan global akhir-akhir ini.

    Muhaimin pun mengingatkan adanya persamaan hak dan kewajiban yang sama antara negara-negara pengirim pekerja migran dan negara penerima pekerja karena kedua belah pihak sama-sama saling membutuhkan.

    "Untuk pertemuan Colombo Process nantinya, kita mengusulkan peningkatan kerja sama antara negara pengirim dan penerima pekerja migran agar benar-benar melakukan aksibersama dalam melindungi hak-hak dasar pekerja migran," kata Muhaimin.

    Pemerintah Indonesia secara konsisten mendukung danmendorong agar kerja sama Colombo process dapat dilaksanakan secara regular untuk meningkatkan aspek perlindungan dan kersejahteraan pekerja migran di seluruh negara penempatan.

    Muhaimin mengatakan sebagai sesama negara asal migran workers, Indonesia dan Srilanka diharapkan dapat lebih meningkatkan kerja sama bilateral dalam menjamin terciptanya perlindungan bagi tenaga kerja migranterutama perlindungan untuk pekerja migran kelompok rentan, mengingat jumlah pekerja migran khususnya di sektor domestikdidominasi oleh perempuan.

    Muhaimin menambahkan kerja sama di bidang ketenagakerjaan antara negara pengirim dan penerima juga dibutuhkanuntuk mengembangkankemitraan programdi bidang peningkatan kualitas standar pelatihan keterampilan dan kompetensi kerja, pelatihan bahasa, etos dan budaya kerja serta regulasi di negara setempat.

    "Kita berharap pertemuanColombo Processsemakin memperkuat posisi negara-negara anggota dalam bernegosiasi dengan negara-negara penerima dan menghidupkan kembali dialog antarnegara-negara anggota dengan melibatkan negara tujuan tenaga kerja yang relevan, termasuk negara pengamat," kata Muhaimin.

    Berdasarkan data statistik, diperkirakan setiap tahun terdapat lebih dari 2,5 juta pekerja di wilayah Asia meninggalkan negara asalnya untuk bekerja di negara lain.

    Sebagian besar mereka bekerja di wilayah Timur Tengah untuk melakukan berbagai pekerjaan dibidang jasa, perdagangan dan konstruksi, sedangkan sebagian lagi bekerja di wilayah Amerika Serikat, Eropa dan Negara lainnya di Asia. (ant/adm)

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email