• Breaking News

    Monday, June 30, 2014

    Sulteng Pelajari Teknik Membuat Ikan Pindang Higienis

    Tobapos -- Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah mengirim sebuah tim terpadu untuk mempelajari secara mendalam teknis pembuatan ikan pindang higienis pada salah sebuah industri pindang terbesar di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

    Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah Hasanuddin Atjo di Palu, Minggu mengemukakan pengiriman tim itu terkait dengan rencana DKP Sulteng untuk membangun industri pindang di salah satu kawasan pelabuhan perikanan guna meningkatkan nilai tambah bagi nelayan.

    Tim yang terdiri atas 15 orang itu merupakan staf utama di berbagai bidang, seperti bidang pengolahan hasil perikanan, bidang penangkapan dan sumber daya ikan, bidang budidaya ikan, UPT Pelabuhan Perikanan, balai penelitian, laboratorium dan perencanaan program.

    Tim tersebut mengunjungi PT. Pindang Kapal Nelayan Group di Kecamatan Parung selama dua hari 25-27 Juni 2014 untuk menyaksikan langsung proses produksi pindang, baik yang menggunakan teknologi modern yang menghasilkan pindang higienis maupun yang diolah secara konvensional.

    Menurut Hasanuddin Atjo yang memimpin langsung tim studi banding tersebut, pihaknya akan mengusulkan pembangunan industri pengolahan pindang untuk mendapatkan dana dari APBD Sulawesi Tengah dan APBN Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) tahun 2015.

    "Pemerintah memang harus memulai dahulu untuk memberikan contoh guna memancing minat investor membangun industri pindang di Sulteng sehingga kemudian akan disusul oleh para penanam modal," ujarnya menjawab pertanyaan mengapa industri pindang tidak diserahkan kepada swasta.

    Industri pindang ini diharapkan akan ditempatkan pada salah satu pelabuhan perikanan di Sulteng seperti PPI Donggala atau PPP Ogotua, Kabupaten Tolitoli, yang sudah memiliki sarana dan fasilitas yang lumayan memadai seperti lahan, air bersih dan listrik.

    "Kita maunya semua kabuaten/kota ada industri seperti ini karena cukup besar nilai tambah yang dihasilkan. Kita harus mengubah paradigma bahwa pengusahaan sektor perikanan harus bergeser dari cara-cara konvensional ke modern. Untuk memulai ini, maka pemerintah harus memicunya lebih dahulu," ujar Atjo.

    Investasi membangun industri pindang, menurut dia, tidak begitu besar. Peralatan pendukung yang agak mahal adalah ABF (air blast freezer-ruang pendingin dengan suhu sampai minus 15 derajat celsius) sebagai tempat penampungan bahan baku. Sementara peralatan lain cukup sederhana berupa panci pengukusan ikan (presto) dan perlengkapan pengepakan hampa udara (vacuum packaging) serta kulkas penampungan bahan jadi.

    "ABF itu harganya sekitar Rp1,5 miliar. Kalau di PPI Donggala, ruang untuk ABF sudah tersedia. Tinggal pengadaan alat pendinginnya saja. Kalau ini terealisasi, ABF Donggala bisa digunakan untuk pengolahan ikan tuna berkualitas ekspor," ujarnya.

    Sementara itu Direktur PT. Pindang Kapal Nelayan Bogor, Tony Suhendra mengemukakan bahwa industri pindang yang dimilikinya sering kekurangan bahan baku ikan segar karena harus mendatangkannya dari wilayah timur Indonesia.

    "Kesulitan utama kami adalah keterbatasan bahan baku. Karena itu ke depan, kami akan menjalin kerja sama dengan Dinas KP Sulteng untuk memasok bahan baku ikan segar bagi perusahaan kami," ujar Tony.

    Soal pemasaran ikan pindang hasil produksi perusahaannya, Tony mengemukakan bahwa semuanya masih terbatas untuk pasar Kabupaten Bogor, Kota Bogor dan sekitarnya serta sebagian ke Jakarta.

    "Untuk pasar di sini saja kami belum mampu memenuhinya. Bagaimana mau antarpulau dan ekspor," ujarnya Tony. (ant/adm)

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email