• Breaking News

    Thursday, November 6, 2014

    NTT Optimalkan Potensi Maritime

    Tobapos -- Pemerintah Provinsi Nusa Tengara Timur terus berupaya mengembangkan dan mengoptimalkan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu potensi maritime setempat untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahtreraan masyarakat, khususnya nelayan kecil.

    "Upaya pemaksimalan tersebut didukung oleh potensi perikanan tangkap di daerah ini terdiri dari potensi lestari 388,7 ton per tahun," kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Nusa Tenggara Timur (NTT) Abraham Mauaka di Kupang, Kamis.

    Menurutnya, jumlah ikan ekonomis, antara lain di wilayah perairan NTT adalah Ikan Pelagis yakni Tuna, Cakalang, Tenggiri, Layang, Selar dan Kembung. Ikan Demersal antara lain Kerapu, Ekor Kuning, Kakap dan Bambangan serta komoditi lainnya ialah Lobster, Cumi-cumi dan Kerang Darah.

    Ia menyebutkan data tahun 2013, perikanan tangkap berjumlah 104.827 ton, dengan kontribusi pendapatan sebesar Rp1.074 triliun lebih.

    Tahun 2014, katanya, jumlah perikanan tangkap 19.511 ton dengan nominal pendapatan Rp199 miliar.

    "Dari jumlah tangkapan di atas, produk olahannya diekspor ke USA, Jepang, Thailand dan Timor Leste. Untuk mendukung produktivitas tangkapan nelayan, tahun 2013 diberikan sarana penangkapan ikan, katanya.

    Selain peralatan tangkap, juga dikembangan Perikanan Budi Daya terdiri dari budidaya Laut seluas 5,870 Ha dengan potensi produksi dapat mencapai 51.500 ton/tahun. Lalu, budi daya air payau 35,455 Ha yakni udang dan bandeng dengan potensi produksi dapat mencapai 36.000 ton per tahun, budi daya air tawar, yakni kolam 8,375 Ha.

    Selain itu, katanya, potensi budi daya rumput laut bisa dikembangkan di semua kabupaten/kota yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur kecuali Kabupaten Timor Tengah Selatan yang kecil peluangnya untuk budidaya rumput laut karena memiliki wilayah laut di sebelah selatan Pulau Timor atau berbatasan dengan Samudera Hindia.

    "Adapun kabupaten-kabupaten yang budidaya rumput lautnya telah berkembang yaitu Kabupaten Kupang, Sabu Raijua, Rote Ndao, Alor, Lembata, Flores Timur, Sikka, Sumba Timur dan Kabupaten Manggarai Barat. Komunitas rumput laut unggulan yang dibudidaya adalah Echeuma Cotonii, Eucheuma Sp, dan Alga Merah (red algae)," jelasnya.

    Luas lahan potensial untuk budidaya rumput laut di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 51.870 Ha atau 5 persen dari garis pantai, dengan potensi produksi sebesar.250.000 ton kering per tahun.

    Dia memaparkan tahun 2013 produksi budi daya rumput laut sebanyak 1.2 juta ton jenis basah atau 209 ribu ton jenis kering dengan akumulasi pendapatan Rp1.8 triliun.

    "Sampai bulan Juni 2014, produksi sebanyak 655 ribu ton rumput laut basah atau 85,6 ton rumput laut kering, dengan pendapatan sebesar Rp725 miliar," tambahnya.

    Pemerintah, katanya, terus mendorong pengembangan perikanan dan kelautan, dilakukan melalui, pengembangan perikanan budidaya, perikanan tangkap, penyuluhan, pengembangan kapasitas kelembagaan serta pemasaran produksi.

    Selain itu, sambungnya, dilakukan pula pengolahan klaster industrialisasi berbasis minapolitan, rumput laut, perikanan tangkap, optimalisasi kawasan potensial budidaya air tawar serta pengembangan garam rakyat.

    Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Riza Damanik berpendapat kabinet baru harus mampu memperhatikan eksistensi Indonesia Timur, termasuk NTT.

    "Indonesia Timur kaya perikanan, berharap setelah ini terjadi interaksi antar pulau yang kuat agar memperkuat sistem pangan logistik nasional," katanya ketika dihubungi di Jakarta.

    Menurut dia, kabinet yang baru, khususnya Kemenko Bidang Kemaritiman, harus mampu mengatasi ketimpangan pembangunan pelabuhan di Indonesia.

    "Sekitar 70 persen pelabuhan ada di Indonesia sebelah barat. Padahal kekayaan sumber daya lautnya jah lebih besar di timur" katanya.

    Menurut Riza, salah satu hambatan bagi Kemenko Bidang Kemaritiman adalah koordinasi antar sektor di internal yang hanya bisa diselesaikan dengan kepemimpinan yang kuat.

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo diharapkan dapat memperkaya khazanah dan dengan gaya kepemimpinannya mampu terjadi koordinasi lintas sektor.

    "Pengalaman Indroyono di Organisasi Pangan Dunia (FAO) bisa digunakan dalam pembangunan kemaritiman Indonesia," kata Riza. (ant/adm)

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email