• Breaking News

    Thursday, November 12, 2015

    Kisah Revolusi Mental dan Sumpah Pemuda di Kawasan Nuklir Pasar Jumat

    Tobapos -- Bagi bangsa Indonesia tanggal 28 Oktober menjadi hari yang sangat bersejarah yaitu dicetuskannya Sumpah Pemuda 87 tahun yang lalu. Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda diikuti oleh seluruh karyawan BATAN di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta. Bertindak sebagai Pembina Upacara, Deputi Teknologi Energi Nuklir, Dr. Taswanda Taryo.

    Dalam sambutan Menpora yang dibacakan Taswanda, diawali dengan pernyataan Presiden RI pertama Soekarno yang mengatakan “Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya. Berikan aku sepuluh pemuda maka akan ku guncang dunia”, dikutip dari Batan.go.id.

    Paragraf lain dalam sambutan dikatakan bahwa sering masyarakat disuguhkan kasus-kasus kekerasan dan pembunuhan yang melibatkan pemuda Indonesia. Telusur punya telusur bermula dari interaksi sosial media (Sosmed). Sosmed kini menjelma menjadi tempat kumpul favorit anak-anak muda lintas negara, lintas budaya dan lintas agama. Biasanya berjalan real time 24 jam. Hal ini tidak mudah bagi orang tua, guru, lembaga pendidikan, termasuk negara untuk mengontrolnya.

    Pesatnya perkembangan teknologi Informasi ibarat pisau bermata dua. Satu sisi memberikan jaminan kecepatan informasi kepada para pemuda untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan skill. Namun sisi satunya membawa dampak negatif. Beragam informasi yang bersifat destruktif, mulai dari pornografi, narkoba, pergaulan bebas hingga ke radikalisme dan terorisme dapat dengan mudah masuk, tanpa bisa dibendung. Lahirlah generasi baru yang memiliki pola pikir serba cepat, instan, lintas batas, cenderung individualistik dan pragmatik.

    Peringatan Sumpah Pemuda ke 87 ini mengambil tema “Revolusi mental untuk kebangkitan pemuda menuju aksi Satu Untuk Bumi. Tema ini merupakan relevansi dari gerakan Revolusi Mental yang digagas Presiden Joko Widodo. Hanya dengan pembangunan karakter kita bisa kuat, tangguh dan kokoh menghadapi dampak negatif dari modernisasi dan globalisasi. Harapannya agar pemuda Indonesia mampu mandiri mengambil keputusan terbaik secara jernih sesuai dengan akal sehatnya.

    Keprihatinan lain adalah terkait fenomena pengelolaan sumber daya alam yang belum sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Sebagai negara tropis, Indonesia menjadi tumpuan dunia untuk menjaga keseimbangan iklim melalui pasokan oksigennya. Namun hari ini justru Indonesia menjadi negara penyumbang polusi terbesar di kawasan Asia Tenggara melalui kabut asap.

    Salah satu ikrar penting dalam Sumpah Pemuda 1928 adalah “Satu Tanah Air, tanah air Indonesia”. Poin ini memberi tekanan sangat kuat kepada pemuda akan pentingnya menjaga tanah dan air sebagai bagian penting dari komponen bumi demi keberlangsungan masa depan generasi penerus.  (adm)

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email