• Breaking News

    Monday, November 9, 2015

    Para Praktisi Pelaksana Wakaf Mulai Konsolidasi

    Tobapos -- Badan Wakaf Indonesia (BWI) menggelar kegiatan Konsolidasi Nadir Wakaf Uang dan Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU) di Hotel Ibis Cawang Jakarta Timur selama tiga hari, Jum’at -Ahad 6-8 November 2015 kemarin. Konsoidasi ini dihadiri oleh lebih dari 50 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.

    Mereka antara lain berasal dari utusan Wakaf Al-Azhar, Nahdlatul Ulama, Tabung Wakaf Indonesia, Koperasi Jasa Keuangan Syariah Beringharjo (Yogyakarta), Baitul Maal wat Tamwil Al Fataya (Sumatera Barat), KJKS BMT An-Najah (Jawa Tengah), Bank DKI Syariah, Bank BNI Syariah, Kementerian Koperasi, dan Yayasan Daarut Tauhiid (Bandung), dikutip dari kemenag.go.id.

    Sekretaris Badan Pelaksana BWI Nur Samad Kamba mengatakan, kegiatan dilaksanakan dalam rangka peningkatan penghimpunan dan pengelolaan wakaf uang di Indonesia. BWI menginginkan pelaksanaan wakaf uang berjalan semakin baik dan semarak.

    BWI menilai pelaksanaan wakaf uang di Indonesia belum mengalami kemajuan signifikan, baik dalam hal penghimpunan, pengelolaan, maupun penyaluran hasilnya kepada masyarakat. Menurut staf Divisi Pembinaan Nazhir BWI Fahrurohi, hal ini bisa dikarenakan faktor nazir, LKS-PWU, atau aturan wakaf uang yang ada.

    Karena itulah BWI mengundang nazir-nazir wakaf uang yang sudah terdaftar dan bank-bank LKS-PWU untuk mendorong peningkatan kualitas penyelenggaraan wakaf uang. Selain dalam rangka pembinaan, kegiatan ini juga diisi dengan diskusi saling berbagi pengalaman di antara nazir dan LKS-PWU, serta sistem pelaporan dan akuntansi wakaf uang.

    Dalam pembukaan kegiatan konsolidasi, Jum’at (6/11) yang dihadiri perwakilan Direktorat Pemberdayaan Wakaf Kementerian Agama, Ketua Badan Pelaksana BWIH. Maftuh Basyuni menyampaikan, Salah satu hal yang membedakan wakaf dari zakat dan hibah adalah keberadaan nazhir.

    “Nazhir inilah pihak yang menerima amanah dari wakif untuk menjaga, memelihara, mengadministrasikan, dan mengelola harta wakaf sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan wakif. Selanjutnya, nazhir juga bertugas untuk menyalurkan hasil/ manfaat wakaf kepada pihak yang sudah ditetapkan wakif, yang disebut mauquf alaih,” jelasnya.
    Maftuh mengingatkan, tugas nazhir adalah mengelola dan mengembangkan harta wakaf sehingga menghasilkan manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat. Karena itu, nazhir haruslah orang-orang yang cerdas dan kreatif dalam bisnis.

    “Upaya memajukan dan memproduktifkan wakaf tidak bisa tidak harus dimulai dari penguatan kapasitas nazhir. Tanpa kehadiran nazhir yang berkualitas, harta wakaf hanya akan menjadi aset abadi yang beku dan minim manfaat,” katanya.

    Kegiatan konsolidasi itu menghadirkan beberapa narasumber dari kalangan praktisi wakaf uang dan bank syariah, serta pebisnis dan motivator. Kegiatan yang ditutup oleh Wakil Ketua Badan Pelaksana BWI Slamet Riyanto menghasilkan beberapa rekomendasi, antara lain BWI bekerja sama dengan BI, OJK, dan lembaga terkait lainnya mengkaji lebih jauh kemungkinan penggunaan harta wakaf sebagai cash collateral di perbankan.

    Direkomendasikan juga BWI membuat standar kompetensi nazhir dan klasifikasi nazhir berdasarkan keahlian dalam mengelola wakaf. (adm)

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email