• Breaking News

    Monday, April 25, 2016

    Dunia Dakwah KH. Syafaruddin Tanjung

    Tobapos -- Saat Syafaruddin masih kecil, tak pernah tebersit dalam hati kecilnya niat untuk terjun ke dunia dakwah. Apalagi, bercita-cita untuk jadi seorang da`i. Sebab, dia dulunya memang cita-cita ingin jadi tentara. Hal itu dikarenakan di mata Syafaruddin jadi tentara merupakan cita-cita besar dan melambangkan keperkasaan dan kegagahan. Tak salah, setelah lulus dari bangku Tsanawiyah, dia pun tidak ingin melanjutkan ke sekolah agama (Aliyah) dan malah secara diam-diam melanjutkan ke sekolah umum (SMU).

    Tetapi garis hidup yang dia cita-citakan dan dia rintis untuk menjadi tentara ternyata kandas di tengah jalan. Kedua orangtuanya tak merestui dan saat ibunya tahu Syafaruddin mendaftar ke sekolah umum, sang ibu marah bukan kepalang. Sebab, dari kecil anak lelaki satu-satunya dalam keluarga itu sengaja diarahkan menjadi seorang da`i.

    Rupanya, harapan kedua orangtua Syafaruddin itulah yang menjadi garis hidupnya. Ia selain tidak pernah mendaftarkan diri tes untuk jadi tentara, bahkan ujian SMU pun yang dia ikuti sembunyi ternyata tidak berbuah hasil. Akhirnya ia melanjutkan ke bangku Aliyah dan menjadi seorang da`i. Malah, lelaki Batak ini kini menyadar bahwa ridha Allah itu tergantung pada ridha kedua orangtua tidaklah bisa disangkal. Sebab ia telah membuktikan sendiri akan kebenaran hadits nabi tersebut dalam pengalaman hidupnya.

    Komitmen dari Orangtua
    Syafaruddin Tanjung, dilahirkan di sebuah daerah terpencil di Tapanuli Selatan pada 10 Desember 1962. Kendati demikian, ia dibesarkan di daerah Labuhan Batu, Rantau Papat, Sumatra Utara. Orangtuanya adalah seorang aktivis masjid. Tidak salah, kalau didikan yang diberikan tak lepas dari dokrin agama yang cukup kuat dan tegas..

    Syafaruddin kecil, selain masuk ke pesantren, juga disekolahkan ke sekolah agama. Karena itu, meski di pagi hari sudah belajar di Sekolah Dasar, di sore hari Syafaruddin harus tetap sekolah agama di Madrasah Ibtidaiyah. Setelah belajar dan lulus dari Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidayah (1974), Syafaruddin Tanjung kemudian dimasukkan oleh orangtuanya ke sekolah Tsanawiyah, meski dia berambisi untuk masuk ke sekolah SLTP. Namun ambisi itu kandas, sebab sang ibu tidak merestui dan memaksanya untuk masuk ke sekolah Tsanawiyah.

    Setelah tiga tahun belajar, ia akhirnya berhasil menamatkan Tsanawiyah. Saat itulah, jiwa berontak Syafaruddin mulai muncul. Apalagi semasa sekolah di bangku Tsanawiyah itu ia sudah berusaha mencari uang sendiri untuk membiayai sekolah dengan bekerja membantu pamannya di sebuah bengkel mobil. Dia merasa berhak untuk menentukan jalan hidupnya dan menentukan pilihan sekolah yang ia inginkan.

    Karena itu, dalam hati Syafaruddin sempat terpikir, “Saya sudah membiayai sekolah saya sendiri sehingga saya berhak untuk melanjutkan ke sekolah mana pun yang saya suka.”

    Dari situ, ia diam-diam kemudian mendafatar ke sekolah umum, SMU 1 Rantau Papat. Rupanya, ulah nakal Syafaruddin untuk membelot dari arahan orangtuanya dengan diam-diam mendaftar ke sekolah umum itu diketahui oleh orangtuanya, terutama ibu.

    Sang ibu langsung memanggil dan bertanya,, “Kamu masuk sekolah mana?”

    Dengan jujur, Syafaruddin menjawab, “Saya mendaftar ke SMU 1 Rantau Papat, bu!”

    Saat mendengar anak laki-laki satu-satunya itu masuk sekolah umum, si ibu langsung berang. Di hadapan anaknya, ia berucap, “Kalau kamu masuk ke sekolah SMU 1, saya tidak inginkan kamu keluar dari pintu ini dan jika kamu masih tetap ikut pendaftaran, berati kamu bukan lagi anak saya.” Cerita Syafaruddin mengenang kemarahan ibunya saat mengetahui ulah nakal Syafaruddin, “Sampai begitu teguran ibu! Masyaallah,”

    Kendati demikian, Syafaruddin waktu itu masih tetap mendaftar ke SMU 1 Rantau Papat. Tapi setelah pengumuman, ternyata namanya tak tercantum. Dia gagal masuk sekolah umum sehingga ia sempat menganggur satu tahun dan baru tahun berikutnya ia melanjutkan sekolah Aliyah.

    Dari peristiwa itu, dia kini sadar bahwa dia memang harus menjadi seorang da`i sebagaimana yang diharapkan oleh orangtuanya. “Saya sejak kecil memang sudah diarahkan oleh orangtua untuk menjadi seorang da`i. Apalagi saya itu adalah laki-laki satu-satunya dari empat bersaudara. Tiga saudara saya itu semuanya perempuan dan hanya saya yang laki-laki. Buat orang tua saya sudah tertanam prinsip bahwa kalau punya anak laki-laki harus menjadi da`i agar nantinya bisa mendoakan orangtua di akherat,” kenang lelaki batak ini saat bercerita tentang masa kecilnya dulu.

    Selain itu, “Bahkan sekitar tahun 80-an saya sempat berpikir mau masuk TNI, ketika gejolak Timor-Timur. Waktu tamat Tsanawiyah itu kan sudah bisa masuk tentara, dan waktu itulah saya ingin masuk tentara. Tetapi tidak diridhai oleh orangtua dan keinginan itu saya pendam. Nah, begitu lulus dari Tsanawiyah itulah saya diam-diam berangkat daftar SMU. Ya, begitu keluar pengumuman saya tidak lulus dan karena tidak lulus itulah akhirnya saya daftar ke Aliyah,” ucapnya kalem dan bermaksud menasehati reporter Hidayah supaya pengalaman yang dialami itu dijadikan pelajaran.

    Waktu tak lulus itu Syafaruddin sadar bahwa doa orangtua ternyata makbul. Meskipun pada awal mulanya, dia mengakui belajar di Aliyah hanya setengah hati, namun pada akhirnya ia menyadari harapan yang diembankan oleh orangtuanya itu haruslah ditunaikan.

    “Jadi dari situ, saya menyadari akan pemikiran ibu saya ketika dahulu memaksa saya sekolah agama ternyata setelah bapak dan ibu saya meninggal saya baru merasa. Seandainya saya tidak jadi ustadz sebagaimana harapan mereka, umpamanya menjadi preman mungkin saya tidak bisa mendoakan mereka,” ucapnya mengakui kebenaran akan arahan dari orangtua yang dulu sempat ditentangnya.

    Kini Syafaruddin merasa beruntung sebab dari dorongan orangtuanya untuk menjadi da`i itu bisa mengarahkan hidupnya menjadi seperti sekarang ini. Hal itu juga dirasakan saat ia melanjutkan kuliah di Fakultas dakwah IAIN Imam Bonjol, Sumatra Barat. Bahkan setelah menikah dan mendapatkan anak, ia menyadari kebenaran jalan yang diarahkan orangtuanya.

    Jalan hidup menjadi da`i itu memang harus ia tempuh. Bahkan saat dia harus pindah ke Jakarta dikarenakan anak sulungnya harus dioperasi sebab mengidap penyakit hidrosipalus –pembengkakan kepala, terjun ke dunia dakwah pun tetap dia jalankan. Tak salah meskipun anaknya akhirnya meninggal, ia tetap tinggal di Jakarta. “Itulah yang melanjutkan karier saya terus melanjutkan misi dahwah dengan mencari mitra-mitra saya. Nah, saya bergabung degan teman di Tanjung Priok, bergabung dengan lembaga dakwah.”

    Awal Ceramah di Mimbar
    Pengalaman pertama akan selalu terkenang, tidak terkecuali pengalaman pertama kali Syafaruddin dalam berceramah. “Awal saya ceramah di mimbar mengikuti tetangga sebelah rumah, namanya almarhum Hiyar Nasution. Beliau itu pejabat di Depag dan penceramah di mana-mana. Sudah jadi tradisi di daerah saya kalau setiap acara pengajian maulud nabi itu, model ceramahnya ada dua segmen. Nah, saat itu saya diajak tampil di segmen pertama, untuk pembacaan riwayat ringkas maulud nabi. Adapun ceramah yang kedua adalah ceramah umum tentang maulud nabi. Itulah tapak awal saya, sekitar 80 berceramah dan saya duduk di bangku sekolah Aliyah,”

    Selain sudah memulai debut dakwah sejak di banguku Aliyah, Syafaruddin memang sudah menunjukkan kiprahnya di waktu sekolah Tsanawiyah. Tak salah jika saat masih duduk di Tsanawiyah ia sudah memulai debut menjuarai berbagai lomba, di antaranya lomba pidato dan pembacaan puisi. Untuk lomba pidato, malah menjuarai tingkat Kotamadya Padang, tahun 1987. “Saat itu, saya juara lomba prestasi kencana, hari ulang tahun prestasi kencana –Departemen Pertanaian, Koperasi dan Keluarga Bencana di zaman orde baru. Umum dan saya juara, sehingga saya yakin kayaknya sudah bakat dan sudah ada fitrah dari sono, pidato itu ada pada diri kita.” Sejak saat itu, Syafarudin mulai mantap untuk terjun ke dunia dakwah.

    Tak Bisa Ditinggalkan
    Meski sejak hijrah ke Jakarta, Syafaruddin sebenarnya bekerja di servis elektronika, namun bagi lelaki satu ini dakwah tetap harus dijalankan. Sebab, Syafaruddin punya prinsip, “Dari dulu yang namanya dakwah itu tak boleh ditingglkan.” Begitu juga saat ia kemudian bekerja sebagai bisnismen dan melanjutkan kuliah S2 di Riau, kegiatan dakwah masih terus dijalankan. Sebab, Syafaruddin berpegang teguh pada pesan nabi untuk berdakwah walaupun hanya mengatakan satu ayat.

    Selain itu, lelaki ini juga dikenal berani dalam menyampaikan pesan dakwah. Sebagai orang Batak mungkin hal itu sudah menjadi tabiat umum yang diketahui banyak orang. Tak salah jika saat dia berdakwah selalu menyeru perihal kebajikan dengan tanpa pandang bulu. Sebab misi dakwah yang dipegangnya adalah menyeru untuk menyelamatkan umat dan hal itu harus tegas.

    “Target saya adalah menyeru umat, saya tidak mau tahu apakah kalimat-kalimat yang saya dakwahkan itu diterima orang atau tidak. Sebab, yang penting bagi saya menyampaikan kebenaran, walaupun itu pahit. Yang kedua, saya berdakwah itu selain untuk orang lain pada intinya juga terhadap diri sendiri dan keluarga saya. Karena hal itu, bagi saya adalah prinsip dakwah ala rasul,” bebernya tentang prinsip dakwah yang dipegangnya.

    Berdakwah untuk diri sendiri dan keluarga seperti prinsip yang Syafaruddin pegang memang ada benarnya. Sebab, bisa pula kita menemui da`i yang getol berceramah, sementara dalam keluarganya justru kurang harmonis. Konsisten dengan apa yang dipegang itu, maka tak salah jika Syafaruddin pernah vakum berdakwah selama kurang lebih 2 tahun. Apa pasal?

    Sebab baginya, sebelum berceramah kepada umat untuk mengajak kebaikan haruslah terlebih dahulu mengajak terhadap keluarga. Dalam hal ini, Syafaruddin lalu berintropeksi dan memilih berdakwah dulu kepada keluarga. Dia merasa malu, jika dia harus berdakwah sementara dalam keluarganya justru ada ketidakberesan. Akhirnya, dia berhenti berdakwah untuk sementara waktu.

    Sang istri, yang saat itu tahu kemudian bertanya, “Mas kenapa gak pernah ceramah lagi? Padahal, ada permintaan?” Saat itu, Syafaruddin menjelaskan kepada istrinya bagaimana harus berbuat baik dan mendakwahkan pentingnya menutup aurat dengan memakai jilbab. Ia dalam waktu itu membenahi keluarganya dengan menyuruh istrinya harus berbuat baik dan setelah ada perubahan, kemudian ia pun kembali berdakwah.

    Menyeru ke Jalan Kebaikan
    Dalam kiprah Syafaruddin dalam berdakwah selama ini, mungkin boleh dibilang tak ada yang lebih. Sebab, baginya metode dakwah yang dipakai sudah ada di dalam al-Qur`an. Untuk hal ini, dia berujar mantap “Serulah manusia ke jalan Allah dengan jalan bil hikmah. Dengan bijaksana, wamauidhotil hasanah. Jadi kalau berdakwah bil lisan, ya kita melihat sikon. Yang jelas, metode kita pertama adalah bahasa –dakwah. Tak ada kalimat yang keluar dengan mubadzir. Makanya, Islam melarang orang mengumpat dan bergunjing, karena hal itu bukan bahasa dakwah.

    Sebagaimana da`i pada umumnya dalam menyampaikan dakwahnya, Syafaruddin juga terrgantung pada sikon. Artinya, kadang-kadang disampaikan dengan cara diskusi dan bisa pula dengan lisan. Pendek kata, semua itu relatif dan metode yang dipegangnya sebagaimana metode Qur`an dan sunnah, dengan tetap dalam koridor yang sudah dituntut oleh agama.

    Berbeda dengan metode yang dipakai, untuk urusan trik dakwah da`i dari yang memiliki empat anak ini ternyata tak bisa meninggalkan bahasa etnis di mana dia dilahirkan dan dibesarkan. Tidak salah, dalam mengantisipasi audien untuk tetap terjaga dan tetap menyegarkan jama`ah (umat) apalagi ketika mereka capek, jenu atau mengantuk, ada tiga trik yang dijadikan sebagai jurus jitu bagi Syafaruddin.

    “Pertama, saya membangunkannya dengan cara yang bisa meggelitik, dengan bahasa khas saya –khas Batak. Bagaimana caranya? Banyak sekali, salah satunya adalah lewat cerita misalnya dengan menceritakan fenomena orang Batak yang berkaitan dengan marga Batak. Kedua, dengan bahasa humor sebagai bumbu-bumbu. Dan yang ketiga, dengan retorika yang manarik. Sebab tanpa retorika yang menarik, jelas dakwah akan kurang mengena,” tuturnya kalem kepada Hidayah.

    Pendeknya tiga trik itu dipegang Syafaruddin sebagai alat belaka dan bukan sebagai tujuan dakwah. Untuk itulah, dia sangat mengecam seorang da`i yang kebablasan berhumor, apalagi jika sampai menyangkut ke arah pornografi. Sebab, baginya masih banyak cara untuk menyampaikan dakwah dan da`i itu tak boleh kelihangan cara dan akal. Apalagi, da`i adalah pelayan umat. Oleh karena itu, dia tidak gentar ketika harus berceramah di depan orang yang suka bermain judi dengan mengatakan tentang hukum judi. Tak salah jika da`i ini boleh digolongkan sebagai da`i yang tegas dalam memberantas kemungkaran.

    Menekankan Etos Kerja

    Seperti umumnya seorang da`i, apa yang disampaikan oleh Syafaruddin tidaklah lepas dari materi dakwah berupa ajakan pada kebaikan, keimanan dan menjalankan syari`at Islam. Namun di luar itu, da`i satu ini dalam menyampaikan materi dakwahnya selalu menonjolkan pentingnya etos kerja.

    Sebab baginya, semua manusia tidaklah lepas dari dunia kerja dan dalam bekerja itu ada nilai ibadah. Sebab peluang beribadah itu diyakini Syafaruddin amat terbuka, tetapi dalam prakteknya orang jarang menyadarinya. Oleh karena itu, Syafaruddin selalu menekankan ada nilai istimewa dalam bekerja jika itu diniati sebagai ibadah.

    “Saya menyampaikan kepada jama`ah bahwa kerja itu ada nilai ibadah dan itu cukup istimewa bagi dirinya, selain ibadah-ibadah yang lain seperti ibadah shalat, puasa, haji dan zakat. Untuk itu, kerja kita harus diniati ibadah agar kerja itu menjadi istimewa. Agar kerja kita itu jadi ibadah, karena kerja kita akan kita jalankan setiap hari. Menjadikan kerja sebagai ibadah istemewa. Entah itu sebagai karyawan, buruh bangunan dan lain-lain. Bukan hanya kerja dalam rangka dapat duit, melainkan harus diniati ibadah. Sebab itu anjuran dari agama Islam. Selalu saya tonjolkan etos kerja dan masalah ekonomi jika memang perlu juga kita uraikan bahkan kita dakwahkan, semisal bagaimana konsep ekonomi Islam. Sebab Islam itu luas.”

    Selain etos kerja, Syafaruddin tetap tidak berpaling dari tema agama; menekankan tentang keimanan, ketauhidan dan masalah yang bersangkutan dengan masyarakat. “Memang saya tidak punya spesifikasi ilmu khusus yang menjadi ciri khas dakwah saya. Pendeknya, saya mendakwahkan apa saja yang dibutuhkan orang,” demikian pengakuan da`i yang kini sedang menjadi pengelola lembaga Dakwah Akbar Indonesia.  (sumber)

    NB. Posting ini merupakan bagian dari serial Tokoh Nasional di Jakarta. Lihat info selanjutnya di sini.

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email