• Breaking News

    Wednesday, April 27, 2016

    Kisah Saifuddin Zuhri, Ulama Mantan Menteri yang 'Nyambi' Jualan Beras

    Tobapos -- Saifuddin Zuhri dilahirkan dari rahim seorang ibu yang bernama Siti Saudatun, istri Mohammad Zuhri pada tanggal 1 Oktober 1919 di Kawedanan Sokaraja – Tengah Banyumas Jawa Tengah.

    Saifuddin dilahirkan dari keluarga yang sederhana, ibunya berprofesi sebagai perajin batik, sedangkan ayahnya seorang petani. Meskipun berasal dari keuarga yang sederhana, tetapi orang tua Saifuddin memiliki obsesi yang sangat besar. Mereka mengharapkan agar Saifuddin kelak dapat menjadi “orang besar”.

    Keluarga dan lingkungan menjadi faktor penting dalam mengantar hasrat kedua orang tua Saifuddin. Pada masa kecil, pagi dan siang hari, Saifuddin belajar di Sekolah Dasar (Umum) dan Madrasah Ibtidaiyah Al-Huda Nahdlatul Ulama. Pada malam hari dia mengaji Al-Quran dan mempelajari kitab-kitab kuning di berbagai pondok pesantren yang bertebaran di daerahnya. Pada usia kanak-kanak dia telah fasih membaca Al-Quran dan mengkhatamkan beberapa kitab. Ketika berusia 13 tahun, dia sudah mengkhatamkan kitab Safinah, Qathrul Ghaits, Jurumiyah, dan kitab kuning lainnya.

    Ketika berumur 17 tahun, Saifuddin ingin mengembara ke daerah lain karena hausnya ia akan ilmu pengetahuan. Kota Solo, menjadi target tujuannya untuk menambah ilmu pengetahuan. Meskipun dalam kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Akan tetapi, dengan tekad dan semangat yang membara Saifuddin tetap berangkat ke kota Solo.

    Di kota Solo ini, Saifuddin belajar sambil bekerja untuk membiayai sekolahnya. Awalnya ia berencana menjadi pelayan toko dan pelayan hotel, namun terdengar oleh ayahnya dan melarang rencana tersebut. Dia berusaha kerasa untuk mencari pekerjaan yang lebih baik untuk membiayai sekolahnya. Karena Saifuddin memiliki bakat menulis, maka ia melamar sebagai staf koresponden surat kabar Pemandangan yang terbit di Jakarta untuk bertugas meliput berbagai peristiwa, khususnya politik, yang terjadi di Solo.

    Selain di surat kabar Pemandangan, untuk menambah penghasilan ia juga membantu surat kabar berbahasa Jawa, Darmokondo, yang terbit di Solo. Dengan penghasilan tersebut ia berhasil membiayai sekolahnya di Madrasah Mambaul Ulum sampai kelas VIII (kelas tertinggi). Pekerjaannya sebagai wartawan agak terganggu karena sekolah di Mambaul Ulum masuk siang. Karena itu dia memilih untuk pindah ke sekolah lain.

    Dari Mambaul Ulum dia pindah ke Madrasah Salafiyah dan diterima di kelas tertinggi. Namun, di sekolah baru Saifuddin hanya bertahan satu bulan karena alasan serupa: waktu belajarnya siang hari. Sulit baginya meninggalkan pekerjaan sebagai wartawan, karena dengan itu dia bisa membiayai sekolahnya.

    Tak lama setelah keluar dari dua lembaga pendidikan tersebut, Saifuddin belajar di lembaga pendidikan Al-Islam, juga di kelas yang paling tinggi. Di sekolah ini di merasa kerasan. Pertama, karena sekolahnya masuk pagi sehingga tidak mengganggu pekerjaannya sebagai wartawan di siang hari. Kedua, beberapa mata pelajarannya dinilai cukup menarik, misalnya tajdid (pembaruan).

    Pada tahun 1938, di Gedung Habipraya, Solo, diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia sebagai perkembangan lebih lanjut dari Sumpah Pemuda 1928. Menurut saifuddin peristiwa ini perlu diliput karena merupakan peristiwa nasional yang “layak berita”. Selain acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional, juga karena bahasa Indonesia harus dikuasai oleh setiap warga Indonesia. Karena itulah, Saifuddin mengikuti setiap acara dengan seksama dan meliputnya dengan lengkap. Untuk keperluan ini, dia harus meninggalkan bangku sekolah dan pesantren dalam beberapa hari.

    Menjadi Penulis

    Tradisi menulis tampaknya telah menyatu pada diri K.H. Saifuddin Zuhri. Topik-topik tulisan yang diangkat bukan sekedar masalah intern NU atau masalah politik dalam negeri, melainkan juga masalah dunia internasional. Jenis tulisannya pun bervariasi, dari artikel, ulasan dalam tajuk koran yang dipimpinnya, sampai analisis dan esai. Ini terlihat jelas melalui karya-karyanya berupa buku berjumlah tak kurang dari 11 buah yang kini bisa dinikmati oleh generasi baru.

    Buku-buku karya K.H. Saifuddin Zuhri antara lain; Palestina dari Zaman ke Zaman (1947), Agama Unsur Mutlak dalam National Building (1965), K.H. Abdul Wahab Hasbullah, Bapak Pendiri NU (1972), Guruku Orang-orang dari Pesantren (1974), Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia (1979), Kaleidoskop Politik Indonesia (tiga jilid: 1981), Unsur Politik dalam Dakwah (1982), Secercah Dakwah (1983), dan Berangkat dari Pesantren – karyanya yang rampung menjelang akhir hayat.

    Melalui karyanya, sesungguhnya K.H. Saifuddin ingin menyatakan kepada penerusnya agar tidak sekadar menikmati kekayaan para pendahulunya. Generasi baru itu, selain harus melestarikan tradisi yang baik juga menciptakan sesuatu yang baru untuk generasi berikutnya.

    Menjadi Menteri Agama dan Mengembangkan IAIN

    Pada tanggal 17 Februari 1962, tepat pada hari Jum’at, Saifuddin diminta menghadap ke Istana Merdeka. Banyak teka-teki memenuhi benaknya ketika dia memenuhi panggilan Bung Karno. Apakah karena urusan DPR atau DPA? Apa soal urusan Sekjen NU? Atau surat kabar Duta Masyarakat? Ternyata dalam pertemuan itu, Bung Karno minta K.H. Saifuddin Zuhri agar menjadi Menteri Agama, menggantikan K.H. Wahib Wahab yang mengundurkan diri.

    “Penunjukan Saudara sudah saya pikir masak-masak. Telah cukup lama saya pertimbangkan. Sudah lama saya ikuti sepak terjang Saudara sebagai wartawan, politisi, dan pejuang. Saya dekatkan Saudara menjadi anggota DPA. Saya bertambah simpati. Baru-baru ini Saudara saya ajak keliling dunia, dari Jakarta ke Beograd, Washington, lalu Tokyo. Saya semakin mantap memilih Saudara sebagai Menteri Agama,” ujar Bung karno ketika itu.

    Permintaan ini tidak serta merta diambil oleh KH. Saifuddin Zuhri, tetapi beliau justru meminta pendapat terlebih dahulu kepada tokoh teras NU, khususnya K.H. Wahab Chasbullah dan K.H. Idham Chalid. Selain itu, ia juga bertemu dengan K.H. Wahib Wahab dan mencari tahu kenapa Bung Karno memilih dia untuk menggantikan K.H. Wahib Wahab yang mundur sebagai Menteri Agama.

    Setelah bertemu dengan tokoh-tokoh tersebut dan semua mendukung permintaan Bung Karno untuk mengangkat K.H. Saifuddin Zuhri menduduki posisi Menteri Agama menggagntikan K.H. Wahab Hasbullah. K.H. Saifuddin Zuhri menjadi Menteri Agama periode kesepuluh pada tahun 1967.

    Ketika menjabat sebagai Menteri Agama, K.H. Saifuddin Zuhri berupaya untuk mengembangkan IAIN. Dan upayanya ini membuahkan hasil, IAIN berkembang di sembilan provinsi, masing-masing memiliki cabang di kota kabupaten. Menurut pemrakarsanya, IAIN harus menjadi perguruan tinggi yang memiliki kedudukan strategis dalam rangka mewujudkan tesis agama sebagai unsur mutlak nation building.

    Usaha untuk mengembangkan IAIN ini bukan tidak ada tantangannya. Reaksi muncul dari sebagian kalangan DPR dan dari sekelompok masyarakat yang tidak setuju dengan pengembangan IAIN. Mereka menuduh, Departemen Agama seolah-olah hanya menganakemaskan umat Islam. Berarti pemerintah telah berbuat diskriminatif terhadap rakyatnya.

    Sebagai orang yang bertanggung jawab atas proyek ini, K.H. Saifuddin berupaya menjelaskan. “Menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan rakyat melalui pendidikan dan pengajaran. Dalam sistem pendidikan kolonial tempo dahulu, hanya segolongan masyarakat kecil yang diuntungkan oleh sistem itu, dengan menikmati berbagai fasilitas dan sarana yang baik. Sementara masyarakat Islam yang mayoritas itu dibiarkan dalam kebodohan.”

    Untuk mengembangkan wawasan bagi mahasiswa maupun dosen IAIN, K.H. Saifuddin Zuhri membuat kebijakan mengirim mereka belajar ke luar negeri, misalnya ke negara Timur Tengah. Di antara nama-nama yang pernah mendapat beasisiwa adalah zakiah Daradjat di Ain Syams Kairo, Mesir dan Abdurrahman Wahid di Al-Azhar di kota yang sama.

    Berdagang Beras di Glodok

    Jika saat ini banyak pejabat yang aji mumpung ketika menduduki pos-pos tertentu yang strategis, namun tidak bagi K.H. Saifuddin Zuhri. Hal ini terlihat ketika sang adik (ipar), Mohammad Zainuddin Dahlan menghadap dan memohon untuk dihajikan dengan biaya dinas (abidin) Depag. Departemen Agama memang lazim menghajikan orang-orang tertentu, baik sebagai hadiah maupun kepentingan sebagai petugas haji.

    Namun permintaan sang adik ipar (Mohammad Zainuddin Dahlan) tidak dikabulkan oleh sang kakak (ipar). K.H. Saifuddin Zuhri menjawab keinginan Mohammad Zainuddin Dahlan dengan jawaban, “sebagai orang yang berjasa dan mengingat kondisi perekonomianmu belum memungkinkan, sudah layak jika Departemen Agama menghajikan. Apalagi kamu pernah berjuang dalam perang kemerdekaan. Tapi ada satu hal yang menyebabkan saya tidak mungkin membantu melalui haji departemen. Karena kamu adikku. Coba kamu orang lain, sudah lama aku hajikan....” ujar K.H Saifuddin Zuhri.

    Pernikahannya dengan ibu Solichah, K.H. Saifuddin Zuhri dikaruniai sepuluh putra-putri. Mereka adalah (1) Dr. Fahmi Dja’far (yang beristrikan Dra. Maryam putri tokoh NU K.H. Ahmad Syaikhu); (2) Farida (bersuamikan Ir. Shalahuddin Wahid putra ketiga K.H. Wahid Hasyim – adik kandung Abdurrahman Wahid); (3) Anisa, istri Dr. Solichul Hadi (mantan aktivis PMII); (4) Aisyah, yang dipersunting Drs. Wisnu Hadi (pengusaha); (5) Andang FN; (6) Baehaqi, berpendidikan di Kairo dan Belanda yang menikah dengan Gitta (Gadis Belanda); (7) Julia; (8) Annie; (9) Adib yang menikah dengan Yanti Ilyas (putri K.H.M. Ilyas); dan (10) Lukman Hakim Saifuddin, kini Wakil Ketua Umum DPP PPP dan Wakil Ketua MPR-RI.

    Pada akhir 1980-an, K.H. Saifuddin Zuhri memiliki kebiasaan baru yang tidak diketahui oleh putra-putrinya. Setiap habis shalat dhuha, sekitar pukul 09.00, dia keluar rumah mengendarai mobilnya sendiri. Menjelang dzuhur tiba, dia sudah kembali ke rumah. Ke mana gerangan mantan Menteri Agama ini pergi? Dan untuk urusan apa?

    Kegiatan ini berjalan cukup lama tanpa satupun anggota keluarganya mengetahui. Sampai suatu hari, salah seorang putranya berhasil memergoki apa yang dikerjakan oleh K.H. Saifuddin di luar rumah. Bukan kepalang kagetnya ketika sang putra mengetahui yang dikerjakan oleh ayahnya selama ini.

    Rupanya, sehabis shalat dhuha, dia pergi ke pusat perdagangan Glodok, Jakarta Pusat. Tanpa harus merasa jatuh gengsi, dai berdagang beras kecil-kecilan. Sampai akhir hayatnya, tokoh yang satu ini hidupnya sangat bersahaja. Semasa menjadi pejabat dan tokoh penting, sangat berpantangan dengan budaya aji mumpung. Seandainya dia mau, boleh jadi pada akhir tahun 1980-an itu dia tidak perlu harus keluar rumah setiap pagi untuk menjadi pedagang kecil dan menjual beras.  (sumber)

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email