• Breaking News

    Tuesday, April 26, 2016

    Mengenang Jasa Kiai Haji Zainul Arifin Pohan

    Tobapos -- Sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr Phil lchwan Azhari MS mengatakan, sekalipun Zainul Arifin atau lengkapnya Kiai Haji Zainul Arifin Pohan sudah ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional asal Sumatera Utara (Sumut) sejak tahun 1963, dan namanya sudah diabadikan menjadi nama jalan di Kampung Madras (Kampung Keling) Medan, dan kota-kota lainnya, tapi sosok tokoh NU ini kurang dikenal oleh sebagian besar orang terdidik di Sumut termasuk warga NU.

    "Pembelajaran sejarah yang terlalu Jakartasentris telah menyebabkan tokoh seperti Zainul Arifin kurang dikenal di tanah kelahirannya sendiri. Karenanya, perlawanan dan koreksi terhadap memori nasional perlu dilakukan," kata Ichwan saat menjadi narasumber pada seminar ‘Peringatan 70 Tahun Resolusi Jihad’ yang digelar di aula kantor PWNU, Jl Sei Batanghari 52 Medan, Sumut, Kamis (22/10).

    Dalam seminar yang digelar dalam rangkaian Hari Santri Nasional ini, juga berbicara Anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPR RI Drs H Marwan Dasopang. Seminar dipandu Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara (UNUSU) Medan Prof Dr Ir Ahmad Rafiqi Tantawi MS.

    Hadir dalam seminar itu, Ketua PWNU Sumut Drs H Afifuddin Lubis MSi, Wakil Rais Syuriah PWNU KH Drs Imron Hasibuan, tokoh senior NU HM Kamaluddin Lubis, para pengurus NU Sumut, PCNU se-Sumut, pengurus badan otonom NU dan civitas akademika UNUSU.

    Padahal, kata Ichwan Azhari, sebelum menjadi Panglima Lasykar Hizbullah di Pulau Jawa, kemudian menjadi wakil perdana menteri Indonesia, ketua DPR-GR, dan politisi Nahdlatul Ulama (NU), Zainul justru lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, 2 September 1909 dan menghabiskan masa kecilnya di Sumut.

    "Zainul Airfin menempuh pendidikan di Pesantren Musthafawiyah Purbabaru, Mandailing. Kendati dia sekolah agama, tapi ia piawai berbahasa Belanda dan Jepang. Dia tokoh inspiratif, karena mampu menepis imej bahwa santri hanya bisa berbahasa Arab dan pakai kain sarung serta tidak bisa bersaing dengan dunia modern," ungkap Ketua Pusat Studi Sejarah dan llmu-ilmu Sosial (Pussis) Unimed ini.

    Perjuangan komandan Hizbullah

    Peraih doktor sejarah budaya Universitas Hamburg, Jerman ini  mengatakan, Zainul justru mendapat pelatihan pertama oleh tentara Jepang. Karena kemenonjolan dan ketangkasannya, membuat dia diangkat sebagai komandan batalion dan kemudian menjadi Panglima Hizbullah, suatu wadah perjuangan pemuda Islam 1942-1945.

    Anggotanya yang ribuan orang sebagian besar mengikuti pendidikan militer gaya Jepang di Cibarusah, Bekasi, Jawa Barat, membuat Zainul Arifin sangat disegani baik oleh tentara Belanda maupun Jepang. Apalagi dia punya pasukan yang terlatih dan militan.

    "Zainul kerap kerap melakukan inspeksi pasukan terutama di basis-basis perjuangan umat Islam, yaitu di pondok-pondok pesantren. Konsolidasi yang terus-menerus dengan peningkatan keterampilan bertempur membuat Hizbullah menjadi lasykar rakyat yang disegani dan berwibawa," tutur Wakil Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Sumatera Utara ini.

    Dikatakan, Zainul Arifin adalah seorang ahli strategi militer yang luar biasa. Karenanya, ketika TNI menjadi tentara profesional, Zainul Arifin dipercayakan melakukan restrukturisasi ABRI di era Presiden Soekarno.

    "Kalau Bung Tomo yang memimpin peristiwa 10 November 1945 di Surabaya adalah orator di radio dan mimbar. Sedangkan Zainul Arifin langsung memimpin pertempuran melawan penjajah. Karenanya, Zainul Arifin merupakan aset penting bangsa Indonesia dan NU. Dia ahli strategi militer yang luar biasa," ucap Ichwan Azhari.

    Ichwan kemudian meminta Anggota DPR Marwan Dasopang agar menggaungkan pelurusan sejarah tentang Zainul Arifin di DPR. "Jangan lagi pembalajaran sejarah terlalu Jakartasentris sehingga menyebabkan tokoh seperti Zainul Arifin tidak dikenal di tanah kelahirannya sendiri," tandasnya.

    Anggota DPR RI H Marwan Dasopang mengatakan, paparan dari sejarawan Ichwan Azhari telah menggelitik dan membuka mata kita, bahwa peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober tidak main-main. Artinya, ada tokoh NU dari Sumut, yakni Zainul Arifin yang menjadi motor pertempuran melawan kolonialisme. Pasukan tempur yang dipakai Bung Tomo melawan penjajah di Jawa Timur ternyata pasukan Hizbullah yang dipimpin tokoh NU asal Sumut Zainul Arifin.

    "Karenanya, saya akan membawa sejarah ini ke DPR agar dimasukkan dalam buku sejarah nasional. Saya akan mendorong Komisi X agar kiprah Zainul Arifin dimasukkan dalam sejarah nasional sehingga menjadi bagian dari penggalan-penggalan sejarah yang utuh dalam mempertahankan kemerdekaan RI," kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB ini.

    Sedangkan Ketua PWNU Sumut H Afifuddin Lubis kepada wartawan mengatakan, seminar ini digelar untuk mengungkap benang merah yang kuat antara Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dengan peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya.

    "Resolusi Jihad yang difatwakan Hadratus Syekh KH Hasyim Asya'ari menjadi motivasi kuat bagi masyarakat Jawa Timur untuk melaksanakan perang melawan kolonialisme yang mencoba bercokol kembali di Republik Indonesia," tutur Afifuddin yang didampingi Ketua Panitia Seminar Ir Baharuddin Berutu dan Wakil Sekretaris PWNU Sumut Drs H Khairuddin Hutasuhut.

    Dia menyampaikan terimakasih kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. "Ini menegaskan kembali, bahwa santri dan ulama berjasa besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan RI," tandasnya.  (sumber)

    NB. Posting ini merupakan bagian dari serial Tokoh Nasional di Jakarta. Lihat info selanjutnya di sini.

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Opini

    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email