• Breaking News

    Monday, May 23, 2016

    Kisah Hebat Anggota Polisi: Bangun Pesantren Sendiri dengan Gaji Pribadi

    jawapos
    Tobapos -- Bripka Junaidin mempunyai solusi dengan pendekatan relegius atas meningkatnya angka kriminalitas di Bima dengan cara membangun pesantren. Sebelum tahun ini, dan dia harus mengajar sendiri seluruh santrinya.

    Ke bangunan dengan atap seng berwarna biru nun jauh di bawah bukit Desa Songgela itulah mobil Junaidin mengarah. Cukup jauh dari perkampungan penduduk. Juga, mesti melalui jalan yang hanya sebagian kecil sudah beraspal. Sisanya berbatu-batu dan terjal.

    Kian dekat dengan bangunan yang dituju, lantunan ayat suci Alquran terdengar. Dari suara anak-anak. ”Mereka ini anak-anak Desa Songgela. Sekarang, kalau penuh, jumlahnya bisa sampai 70 anak,” kata Junaidin.

    Yang dimaksud ”kalau penuh” oleh polisi berpangkat brigadir polisi kepala (bripka) itu adalah bangunan bercat biru tersebut. Itulah musala, tempat segala aktivitas santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Fathul Alim berpusat.

    Tidak sepeser pun biaya yang dikenakan kepada anak-anak yang ingin mengaji di sana. Mayoritas santri di pondok itu berusia 6–7 tahun.

    Yang lebih tua daripada itu umumnya sudah khatam. ”Saya mendirikan pesantren ini sejak 2009,” kata polisi yang bertugas di Polsek Rasanae Barat, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, tersebut.

    Ayah tiga anak itu mendirikan ponpes tersebut dari hasil memeras keringat sendiri. Dalam arti seharfiah-harfiahnya. Maksudnya, Junaidin tak hanya merogoh kocek sendiri. Tapi juga keluar tenaga untuk membangunnya.

    Ponpes itu berdiri di sebidang tanah yang dibeli sepulang Junaidin melaksanakan tugas kepolisian di Papua. Uang yang digunakan untuk membeli tanah seluas 0,8 hektare tersebut berasal dari warisan keluarga.

    ”Harganya Rp 62 juta waktu saya beli,” ujar Junaidin.

    Bripka Junaidin, petugas Polisi Polsek Rasanae Barat, kota Bima, bersama dengan anak-anak dan pembimbing pondok pesantren Al Fathul Alim, ponpes yang dia dirikan sendiri di desa Songgela, kota NTB.

    Di awal ponpes itu berdiri, Junaidin harus menyisihkan uang Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu dari gaji bulanan untuk membeli dinding bambu. Material lain seperti pasir dia ambil langsung dari sungai yang mengalir di samping ponpes.

    Junaidin sendiri yang mengangkutnya. Kebutuhan kayu dia ambil dari tanah warisan keluarga di Desa Melayu. ”Saya tidak mungkin bayar tukang. Uang dari mana? Sesekali memang saya panggil satu atau dua warga buat minta bantu bangun,” katanya.

    Junaidin rela melakukan semua itu karena ingin berbuat sesuatu untuk kampung tempatnya lahir dan dibesarkan. Sebab, sebagai polisi, pria yang tak pernah mengenyam pendidikan di ponpes itu tahu sekali bahwa angka kriminalitas di Bima meningkat. (sumber)

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email