• Breaking News

    Monday, May 23, 2016

    Melongok Desa Saudagar Penghasil Jutawan India yang Terabaikan

    Tobapos -- Walaupun sebagian besar kediaman megah atau haveli di Shekhawati, India, hancur dan terbengkalai, sebuah pintu kecil menuju dunia kemewahan yang tercermin dalam bangunan penuh lukisan itu masih dipertahankan, dikutip dari laporan BBC.

    Bekas rumah mewah - Terlupakan di lahan tandus Gurun Thar di Rajasthan, kawasan Shekhawati pernah menjadi rumah bagi kemewahan yang melimpah dari para milliuner India. Hari ini, banyak kediaman megah milik mereka telah ambruk – lukisan yang memudar menandai sisa-sisa kejayaan wilayah tersebut.

    Membanjiri kota berdebu dengan warna-warni - Dengan lukisan yang menutupi hampir semua jengkal kediaman besar, kota-kota dan desa-desa di Shekhawati menjadi wilayah yang memiliki lukisan dinding terbanyak di dunia. Untuk melindungi harta berharga ini dari kehancuran yang lebih jauh, dua distrik di Shekhawati melarang penjualan kediaman bekas saudagar kepada siapa saja yang dapat membahayakan warisan budaya itu. Tujuan mereka adalah merawat dan mempromosikan Shekhawati tempat tujuan wisata.

    Kebangkitan pedagang yang sukses. Didirikan kepala suku Rajput, Rao Shekha, pada akhir abad ke 15, Shekhawati mengalami kemakmuran pada abad ke-19. Wilayah ini mengurangi pajak untuk menarik para pedagang dan mengalihkan seluruh gerobak dagang dari dekat pusat komersial Jaipur dan Bikaner. Komunitas Marwari dan Bania, etnis yang terkenal dengan aktivitas dagang di India, pindah ke Shekhawati dari kota di sekitarnya, dan mendapatkan keuntungan besar dari kemajuan perdagangan opium, kapas dan rempah-rempah. Rumah-rumah pedagang yang sederhana mulai menjadi kediaman megah atau disebut haveli pada akhir abad ke 19.

    Ketika kesejahteraan menyatu dengan ekspresi artistik - Ketika perdagangan berpindah dari rute darat ke laut dan rel kereta api pada 1820-an, pusat perdagangan Rajasthan mulai lesu. Bagaimanapun, para pedagang dari Shekhawati yang ulet mengikuti jalur uang dan pindah ke kota pelabuhan seperti Bombay dan Kalkuta di pesisir India, dan mengirim uang yang besar ke kampung halaman mereka di Shekhawati, dan itu menandai era kediaman berlukisan unik yang mempertontonkan kemewahan.

    Banyak halaman dan desain yang rumit - Sebagian besar haveli dibangun dengan gaya arsitektur yang serupa – biasanya bangunan dua lantai dengan dua atau empat halaman terbuka yang disusun dalam ruang persegi panjang. Setiap halaman dan ruang yang terhubung dirancang untuk fungsi yang khusus. Halaman pertama yang ditemui setelah memasuki rumah diperuntukkan laki-laki dan kepentingan bisnis mereka, yang kedua untuk perempuan dan dua ruang lain untuk memasak dan kandang hewan. Tetapi para pedagang berusaha sebaik-baiknya untuk membuat penampilan kediaman istimewa, dengan kayu ukiran di pintu masuk, corak-corak yang megah, dan menegaskan pembeda: lukisan mewah yang menggambarkan kehidupan sehari-hari dan mitologi.

    Lukisan dinding menghiasi semua permukaan Terinspirasi oleh lukisan dinding yang diperkenalkan oleh Raja Rajput di Jaipur pada abad 17 di Amer Fort, para pedagang membuat lukisan di setiap inci dari dinding haveli – termasuk eksterior, interior, langit-langit dan bahkan celah di bahwa lengkungan dan atap. Hiasan dari epik kuno Hindu Mahabharata dan Ramayana – bersama dengan hiasan dengan desain dan pola bunga – yang merupakan motif yang paling banyak ditemukan pada lukisan dinding buatan abad 19.

    Warna yang beragam - Para pelukis itu awalnya berasal dari Kota Jaipur, tetapi setelah menyadari meningkatnya ketertarikan terhadap lukisan dinding, anggota dari komunitas pembuat tembikar di Shekhawati mulai mempelajari kerajinan tangan dan menciptakan gaya yang khas di desa yang berbeda. Tidak begitu jelas apakah para seniman ini memiliki kekuasaan penuh dalam merancang atau apakah mereka diberikan instruksi khusus dalam memilih pola dan adegan dalam mitologi.

    Sebelum pertengahan abad ke-19, pigmen warna tradisional yang dibuat dari mineral dan sayuran didominasi ragam warna dinding, dengan variasi merah, marun, indigo, batu lapis lazuli dan biru tembaga bersama dengan kuning cerah yang diduga dibuat dari urin sapi. Mulai 1860an, zat pewarna sintetis digunakan, yang lebih murah dan menawarkan warna-warna baru yang lebih beragam.

    Gabungan mitos dan modern - Pada abad ke-20, lukisan dinding mulai memperlihatkan pengaruh Eropa dan modern – yang diperoleh dari ingatan para pedagang yang telah berkelana ke kota-kota besar. Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, para pelukis dikirim untuk mengamati dan menciptakan ulang adegan. Di antara motif tradisonal, ada lukisan dinding Ratu Elizabeth, Yesus, malaikat, mesin uap dan gramafon, serta kreasi eksentrik campuran mitologi dengan penemuan modern, seperti dewa-dewa Hindu yang berada dalam mobil yang dikemudikan seorang supir.

    Ditinggalkan untuk selamanya - Haveli dan lukisan dinding di Shekhawati berkembang sampai awal abad ke 20; setelah taipan bisnis yang kaya meninggalkan gurun untuk mencari peluang yang lebih baik di kota metropolitan yang sibuk seperti Bombay dan Kalkuta serta luar negeri.

    Setelah perdagangan pindah ke tempat lain, perkembangan di Shekhawati berjalan lambat, dan haveli-haveli yang ada pun ditinggalkan selamanya.

    Beberapa nama besar dalam kancah bisnis India dan global sampai saat ini – termasuk saudagar baja Laxmi Mittal, Kumar Birla dari Aditya Birla Group, mlliuner sektor farmasi Ajay Piramal dan satu-satunya milliuner Nepal Binod K Chaudhary, berasal dari desa-desa di Shekhawati. Faktanya, menurut Forbes hampir 25% dari 100 orang kaya di India berasal dari Shekhawati.

    Biaya pemeliharaan terbesar - Pada tahun 1950-an, kota yang telah membesarkan para milliuner ini kehilangan harapan. Menjual atau merenovasi bungalow keluarga di pedesaan ini – beberapa dapat menampung sampai 50 keluarga di satu tempat – merupakan sebuah pekerjaan yang sulit. Biaya pemeliharaan yang besar dan banyak properti, yang biasanya dibagi ke beberapa ahli waris, terbelit sengketa hukum. Tetapi karena haveli ini merupakan properti pribadi pemerintah tidak dapat melakukan banyak hal untuk melindunginya.

    Sebuah kehidupan baru bagi haveli Shekhawati - Untungnya, kecantikan dan pentingnya kebudayaan yang tercermin pada haveli yang penuh dengan lukisan ini masih mempesona orang-orang. Seniman Prancis Nadine Le Prince, pada 1999 membeli Nand Lal Devra Haveli yang dibangun pada 1802 (sekarang dikenal sebagai Nadine Le Prince Cultural Centre) dan dengan susah payah mengembalikannya seperti saat masa kejayaannya di kota Fatehpur.

    Di kota tetangganya Dunlod dan Nawalgarh, Seth Arjun Das Goenka Haveli dan kediaman milik keluarga Shri Jairam Dasji Morarka juga direstorasi dan dijadikan museum yang dibuka untuk umum. Beberapa haveli yang lain berubah menjadi museum tersebar di pedalaman Shekhawati, dan beberapa seperti Malji ka Kamra, Koolwal Kothi dan Castle Mandawa telah berubah menjadi hotel heritage.

    Walaupun sejumlah haveli mungkin akan hancur dan runtuh – kejayaan mereka masih hidup pada bagunan yang lain. (sumber)

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email