• Breaking News

    Thursday, June 2, 2016

    Keamanan Investasi di Indonesia Belum Terwujud, Belajar dari Kasus Penipuan Koperasi Cipaganti

    Tobapos -- Abdul Bari, 64 tahun, tak menyangka usia senjanya bakal bernasib nahas. Pensiunan pegawai negeri sipil ini menjadi korban dugaan penipuan yang dilakukan PT Cipaganti Citra Graha pada tahun lalu. "Bisa-bisa aku nangis kalau disuruh menceritakan bagaimana kisah penipuan ini," ujarnya, Rabu, 25 Februari 2015, dilaporkan tempo.co.

    Ditemui Tempo saat berunjuk rasa di halaman Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung, Bari tak ikut berteriak-teriak seperti korban lainnya. Dia hanya berdiri di barisan belakang para korban.

    "Yang namanya penipuan itu bikin ngenes. Duit pensiunan aku sekarang enggak jelas ke mana," ujar Bari. Dia enggan menyebut berapa jumlah uang yang diinvestasikannya. Menurut dia, nilai investasinya berjumlah ratusan juta rupiah. Cipaganti memang memasang nilai minimal investasi sebesar Rp 100 juta.

    Awalnya Bari hendak menginvestasikan tabungannya selama bekerja dan masa pensiunnya untuk membiayai kehidupan sehari-hari bersama sang istri. Menurut dia, saat hendak berinvestasi, kedua anaknya tak setuju karena risiko bisnis yang mungkin dialami Cipaganti. Namun, ia tak mengikuti saran kedua anaknya. "Aku yakin sekali dengan prospek ini karena nama Cipaganti yang besar," kata dia.

    Akhirnya Bari memutuskan untuk menginvestasikan seluruh tabungannya pada pertengahan tahun 2009. Menurut dia, Cipaganti tak pernah telat mengirimkan pembagian keuntungan sebesar 1,5 persen. Saat itu, kata Bari, dirinya bisa membuktikan bahwa dia tak salah langkah.

    Namun pada pertengahan 2013, Cipaganti yang dikabarkan melebarkan bisnisnya di sektor batu bara sering telat membayar pada Bari. Dia mengatakan sikap Cipaganti semakin konyol setelah tak lagi membayar hasil investasinya sejak Februari 2014. "Aku merasa ada yang aneh. Teleponku ke pihak Cipaganti untuk meminta kejelasan pun tak pernah diangkat," ujarnya.

    Sebulan kemudian, ia menerima kabar dari rekannya bahwa bisnis Cipaganti pada sektor batu bara mengalami kendala. Sejak saat itu ia sering ikut berkumpul dengan Forum Silaturahmi Mitra Cipaganti (FSMC) untuk mencari kejelasan nasib dana investasinya.

    Pengadilan Tipikor Bandung kemarin menggelar sidang perdana dugaan penipuan nasabah oleh bos Cipaganti Andianto Setiabudi. Andianto bersama ketiga rekan koperasinya, yakni Djulia Sri Rejeki, Yulinda Tjendrawati, dan Cece Kadarusman. Mereka ditangkap karena diduga melakukan penipuan atas para mitra usaha Koperasi Cipaganti Karya Guna Persada. Ketiga tersangka dijerat Pasal 372, 378, serta Pasal 55 Undang-Undang Hukum Pidana.

    Andianto menggunakan Koperasi Cipaganti untuk menghimpun dana dari masyarakat sejak 2008 hingga Mei 2014. Dana yang terhimpun dari 8.700 mitra senilai Rp 3,2 triliun. Andianto menjanjikan dana nasabah akan dikelola koperasi untuk bisnis perumahan, pompa bensin, transportasi, perhotelan, alat berat, dan tambang. Dari bisnis itu, investor akan mendapat imbalan bagi hasil 1,6-1,95 persen per bulan sesuai tenor.

    Dana antara lain disalurkan ke tiga perusahaan Andianto cs, yakni ke PT Cipaganti Citra Graha, PT Cipaganti Global Transportindo, dan satu perusahaan lainnya. Apa lacur, bisnis yang dijanjikan tidak berjalan. Imbasnya, pengelola gagal bayar kepada investor dan membuat banyak investor melaporkannya ke Kepolisian Daerah Jawa Barat.

    Bari mengatakan saat ini dirinya harus meminjam duit untuk dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kedua anaknya tak dapat berbuat apa-apa karena keuangan mereka yang pas-pasan. Satu per satu asetnya seperti mobil dan motor ia jual. Jika tak kunjung mendapatkan kejelasan investasinya, Bari berencana menggadaikan surat tanahnya. "Silakan jika Cipaganti hanya bisa mengembalikan sisa investasi saya. "Yang jelas saya dan istri perlu makan." (adm)

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email