• Breaking News

    Sunday, August 21, 2016

    Nikmatnya Wine Halal di @SuperGayo Coffee

    Tobapos -- Wine tapi halal, kok bisa? Karena minuman satu ini mirip anggur fermentasi tapi sama sekali tidak beralkohol. Rasa dan aroma wine tersebut ada di dalam kopi Gayo, yang berasal dari dataran tinggi dengan nama yang sama di Nanggroe Aceh Darussalam.

    Di Jakarta, kopi ini dapat dijumpai di Super Gayo Coffee yang terletak di Jalan Melawai Raya dan di Ground Zero, Lebak Bulus (keduanya di Jakarta Selatan). Kopi ini meramaikan khazanah perkopian Ibu Kota sejak 2015, saat Kin Aulia “The Fly” dan Boy Wahab membuka kafe yang mengusung kopi tradisional Aceh.

    Menurut Boy Wahab, kopi ini teruji tidak mengandung alkohol layaknya wine. “Cuma rasanya yang mirip,” kata dia. Jadi, jangan samakan ini dengan Kahlua, minuman beralkohol asal Meksiko yang berasa kopi.

    Boy, 44 tahun, mengatakan butuh 30–45 hari untuk memproses wine coffee. Rentang itu lebih panjang daripada pengolahan kopi pada umumnya, sekitar 15 hari. “Proses fermentasi yang lama akan menghasilkan sensasi rasa wine,” ujar dia.

    Berbeda dengan kopi kebanyakan, “kopi anggur” diolah tanpa mengupas kulit ari buahnya. Jadi, Boy menambahkan, setelah dipetik, biji dicuci, direndam, lalu dijemur dalam kondisi utuh. “Biji kopi dibentangkan di terpal, lalu digulung dalam terpal, dan diperam di sinar matahari. Pukul 14.00 adalah waktu ideal karena panasnya maksimal,” kata dia.

    Boy menegaskan proses tersebut berlangsung secara alamiah. “Tidak ada pencampuran bahan apa pun untuk menghasilkan rasa wine,” kata dia. Sensasi anggur tersebut muncul dari aroma kulit kopi yang terfermentasi yang diserap oleh biji kopi selama diperam. “Setelah diperam baru siap di-roasting,” ujar dia.

    Kopi anggur ini terbuat dari biji kopi merah dari jenis arabika yang tumbuh pada ketinggian 1.500 meter dari permukaan laut dan lahannya berpasir. “Karakter seperti itu menghasilkan getah yang bagus untuk fermentasi biji kopinya,”kata Boy.

    Di kedai milik Boy tersebut, kopi dengan cupping score 8,3–8,6 ini diseduh secara manual menggunakan syphon coffee maker. Jadi, baristanya akan datang ke meja sambil membawa satu set vacuum coffee pot tersebut. Lalu, dia mulai memanaskan air selama kurang-lebih satu menit.

    Jika air panas sudah bercampur dengan bubuk kopi, barista akan mengaduknya dengan stik panjang dari kayu. “Lama menyeduhnya 40 detik,” kata Ahmad Abdul Aziz, 21 tahun, sang penyeduh. Di tangan kirinya, Aziz membawa timer. “Kalau lebih, meskipun sedikit, bisa hangus.”

    Kopi itu lantas dia tuang ke dalam cangkir bening berkapasitas 180 mililiter. Buih-buih kuning menyeruak ketika kopi itu dituang. Harumnya memang seperti wine, asam-legit bercampur aroma fruity yang khas. Aroma ini sangat kuat ketika kopi masih panas.

    Ketika disesap, ada sedikit sensasi rasa wine memenuhi mulut dan tenggorakan. Meskipun demikian, rasa khas kopi seperti pahit, asam, manis, dan fruity juga lebih dominan. Kopi ini dijual seharga Rp 55 ribu per cangkir, lebih mahal daripada kopi luwak yang di gerai itu dihargai Rp 45 ribu. Menurut Boy, prosesnya yang panjang menyebabkan wine coffee mahal. “Setelah diperam, biji kopi yang bisa diproses lagi cuma 40–70 persen,” kata dia. “Yang busuk otomatis dibuang.” (sumber)

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Blog Tobasiana

    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email