• Breaking News

    Thursday, November 10, 2016

    Mengenal Pahlawan Nasional KH As'ad Syamsul Arifin

    Tobapos -- Baru-baru ini, Presiden Jokowi mengumumkan akan memberi satu gelar pahlawan nasional. Presiden akan melakukan penganugerahan Pahlawan Nasional pada 10 November 2016, bertepatan dengan Hari Pahlawan. Tim Komunikasi Presiden, Ari Dwipayana, juga telah membenarkan bahwa nama yang akan menjadi Pahlawan Nasional adalah KH As'ad Syamsul Arifin. Siapakah dia?

    KH As'ad Syamsul Arifin yang juga dipanggil KH As'ad lahir di perkampungan Syi'ib Ali, dekat Masjidil Haram, Mekah pada 1897. Bila dilihat dari garis keturunannya, ia masih memiliki darah bangsawan dari kedua orangtuanya. Ayahnya, yaitu K.H. Syamsul Arifin merupakan keturunan Sunan Ampel. Sedangkan, ibunya yaitu Siti Maimunah merupakan keturunan Sunan Kudus.

    Sejak kecil, KH As'ad sudah mempelajari ilmu keislaman di berbagai pesantren seperti Pondok Pesantren Kembang Kuning dan Pondok Pesantren Banyuanyar di Pamekasan, Madura. Ia pun menunaikan ibadah haji dan masuk ke Madrasah Shalatiyah di Mekah, dilaporkan gadis.co.id.

    Sekembalinya KH As'ad ke Indonesia, ia bersama ayahnya dan beberapa santri membangun pesantren di Dusun Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur pada 1908. Pesantren tersebut kemudian dikenal dengan nama Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah. Pondok pesantren ini pun berkembang pesat hingga mampu mendirikan beberapa madrasah dan sekolah umum seperti SMP, SMA dan SMEA.

    Selama masa penjajahan oleh Belanda, KH As'ad nggak tinggal diam. Ia ikut menjadi peserta pada pertemuan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Surabaya, 22 Oktober 1945. Pertemuan tersebut menghasilkan Resolusi Jihad yang berisi lima poin. Salah satu poinnya berbunyi, “Umat Islam, terutama Nahdlatul Ulama wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia.”

    Untuk itu, KH As'ad ikut bergerilya untuk menggerakkan ulama dan warga di area Madura yaitu Sampang, Pamekasan dan Sumenep untuk ikut berperang melawan Belanda di Surabaya. Pesantren Salafiyah Syafi'iyah yang ia dirikan pun dijadikan tempat berkumpulnya pejuang untuk mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun strategi, untuk melawan penjajah.

    Hingga akhir hayatnya pada 4 Agustus 1990 di Situbondo, Jawa Timur, KH As'ad menjabat sebagai Dewan Penasihat PBNU.   (adm)


    Adv: Yuk, Belanja Online di POP Shop

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email