• Breaking News

    Thursday, June 29, 2017

    Teknologi Pengolahan Ikan Lele Masuk Pesantren

    Tobapos -- Budidaya sistem bioflok yang terbukti lebih baik dari sistem konvensional, akhirnya diterapkan di pondok pesantren yang tersebar di 15 provinsi mulai Juli nanti. Program tersebut, menggandeng dua organisasi kemasyarakatan (Ormas) terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

    Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto menjelaskan, program tersebut untuk tahap pertama akan dilaksanakan di 73 pesantren dengan menyasar 78.500 santri yang ada di dalamnya. Saat ini, 15 pesantren yang dimaksud tersebut sedang melakukan proses identifikasi dan verifikasi.

    “Setelah itu kemudian akan ditentukan siapa calon penerima program tersebut. Setelah itu, baru akan dilaksanakan secara serentak di pondok-pondok pesantren yang ditunjuk,” ujar dia belum lama ini.

    Slamet mengatakan, ada dua alasan kenapa KKP memilih pondok pesantren sebagai lokasi untuk menggelar program lele bioflok. Pertama, karena pesantren adalah lembaga non formal yang menjadi lingkungan paling efektif untuk belajar pengenalan usaha. Dengan demikian, program usaha lele bioflok ini diharapkan bisa cepat diterima dan bisa membantu untuk mewujudkan pemberdayaan umat.

    Kedua, Slamet melanjutkan, dipilihnya pesantren, karena Pemerintah memiliki tanggung jawab moral untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungan pesantren melalui penyediaan dan peningkatan gizi berbasis ikan.

    “Saat ini tingkat konsumsi ikan di lingkungan pesantren hanya sekitar 9 kilogam per kapita per tahun, melalui program ini paling tidak ada peningkatan menjadi 15 kilogram per kapita per tahun,” ungkap dia.

    Budidaya sistem bioflok sendiri, kata Slamet, adalah budidaya yang akan meningkatkan produktivitas hingga tiga kali lipat dibandingkan sistem konvensional. Selain itu dari kualitas produk, bioflok diakui konsumen bahwa daging lele yang dihasilkan memiliki citarasa lebih enak dengan warna daging lebih putih.

    Slamet menyebut, dengan potensi yang baik, dia optimis potensi ekonomi yang ada di pondok pesantren bisa digerakkan secara maksimal dan berikutnya kemajuan akan diraih oleh pondok pesantren tersebut.

    Syamsul Mansur, pembudidaya ikan di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sulsel, mulai mencoba budidaya ikan lele metode bioflok ini di pekarangan rumah. Kelebihannya karena tidak meninggalkan bau seperti halnya budidaya lele secara konvensional. Foto: Wahyu Chandra.

    Lebih jauh Slamet menggambarkan, dengan asumsi per paket bantuan sebanyak 12 kolam bulat (diameter 3 m), produksi lele yang dihasilkan bisa mencapai 12,15 ton per tahun dengan nilai pendapatan mencapai Rp182 juta. Dengan kata lain, pembudidaya di pesantren akan mendapatkan nilai tambah keuntungan rata-rata sebesar Rp3.900 per kg. (sumber/adm)


    Adv: Yuk, Belanja Online di POP Shop

    No comments:

    Post a Comment

    loading...


    Blog Tobasiana

    Tentang Kami

    Www.TobaPos.Com berusaha menyajikan informasi yang akurat dan cepat.

    Pembaca dapat mengirim rilis dan informasi ke redaksi.dekho@gmail.com

    Indeks Berita

    Follow by Email